Berita Tangerang

Inilah Pemenang Desain Tugu Pamulang dengan Perpaduan Motif Mandalika Batik Banten

Akhirnya desain Tugu Pamulang sudah ditentukan pemenangnya. Nantinya desain itu akan dipakai untuk merenovasinya

Penulis: AndikaPanduwinata | Editor: Dian Anditya Mutiara
Kompas.com
Tugu Pamulang akan dilakukan perbaikan dengan desain yang baru 

TRIBUNTANGERANG.COM, PAMULANG - Sayembara Gubernur Banten, Wahidin Halim untuk desain Tugu Pamulang yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan sudah ada pemenangnya.

Dewan juri telah menetapkan desain karya peserta nomor TGP0655 dengan Ketua Tim Dedi Kurniadi dan anggota Oma Marta Wijaya sebagai pemenang. 

Sayembara yang digelar Gubernur Wahidin Halim dengan total hadiah Rp 20 juta itu, saat dibuka diikuti oleh 1.013 pendaftar.

Hingga batas akhir penutupan pengirim karya, desain yang masuk sebanyak 190 karya. 

Keputusan dewan juri yang terdiri dari Ir Agung Nugraha (arsitek), Dr. Ir. Eden Gunawan (Ketua PII Wilayah Banten) dan Dr. Mufti Ali (budayawan dan seniman) telah menetapkan karya desain peserta nomor TGP0655 dengan Ketua Tim Dedi Kurniadi dan anggota Oma Marta Wijaya sebagai pemenang. 

Ornamen pada karya desain mencerminkan budaya di wilayah tersebut.

Baca juga: Gubernur Banten Adakan Sayembara Desain Tugu Pamulang Berhadiah Rp 20 Juta

Desain Tugu Pamulang yang baru yang berhasil menang dalam sayembara yang diadakan Gubernur Banten Wahidin Halim
Desain Tugu Pamulang yang baru yang berhasil menang dalam sayembara yang diadakan Gubernur Banten Wahidin Halim (istimewa)

Ornamen dengan motif Mandalika Batik Banten merepresentasikan karakter Pangeran Arya Mandalika yang arif, kuat, sekaligus lemah lembut dan rendah hati.

Ornamen Motif Tumpal Batik Betawi simbolkan keselarasan kosmik dan spiritual serta diyakini sebagai penolak bala. 

Sedangkan bentuk perahu dan ombak untuk adaptasi dan illustrasi Pelabuhan Karangantu yang merepresentasikan kejayaan maritim Kesultanan Banten pada masal lalu.  

Asal Muasal Nama Tangerang Hingga Tugu Pembatas Antara Kekuasaan Banten dan VOC

Melalui sayembara ini, Gubernur WH berusaha menjaring partisipasi dan aspirasi warga masyarakat.

Pemenuhan Desain Tugu Pamulang dalam suasana kompetisi terbuka mengenai ide atau gagasan yang bersumber dari warga masyarakat.

“Kompetisi terbuka mengenai ide atau gagasan desain ini memberikan kesempatan kepada publik untuk berpartisipasi dalam menghasilkan desain-desain yang inovatif dan terbaik,” ungkap Wahidin dalam keterangannya kepada TribunTangerang.com, Selasa (21/9/2021).

Sayembara dengan total hadiah Rp 20 juta ini, pendaftarannya dibuka pada tanggal 10 - 17 Agustus 2021.

Pengumpulan karya  pada 17 Agustus - 10 September 2021. 

Untuk penjurian dilakukan pada 10 September - 16 September 2021.

Demi menjaga hak cipta dan orisinalitas desain pemenang sayembara, dewan juri membuka masa sanggah hingga tanggal 26 September 2021.

Sejarah 

Tugu Pamulang di Jalan Siliwangi, Tangerang Selatan, Banten, menjadi sorotan belakangan ini karena lebih berbentuk toren air daripada sebuah tugu.

Monumen tersebut hanya terdiri dari tiang-tiang panjang dan melingkar.

Di bagian atasnya dipasang kubah berwarna putih.

Tidak ada ornamen atau hiasan apapun pada tugu yang disebut-sebut merupakan ciri khas kawasan Pamulang itu.

Pemerintah Provinsi Banten menyebut, Tugu Pamulang itu diadopsi dari bentuk Tugu Banten Lama yang berada di kompleks Masjid Agung Banten.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banten M. Tranggono menjelaskan, Tugu Pamulang sengaja dirancang menyerupai menara di kompleks masjid tersebut.

Namun, bentuk Tugu Pamulang dibuat lebih minimalis dan hanya mengadopsi bagian kubah di atas menara.

"Jadi filosofinya mengambil seperti Banten Lama, Tugu Banten Lama, dibuat minimalis. Makanya pada perjalanan tadi, adendum dibuat kaya masjid," ujar Tranggono saat dihubungi, Senin (12/4/2021).

Menurut Tranggono, Tugu Pamulang sengaja dibuat minimalis karena terkendala anggaran yang tersedia pada tahun 2017.

Dalam keterangan tertulis Wahidin mengaku mempelajari dan menggali informasi seputar Tugu Pamulang setelah bangunan itu viral di media sosial.

Tugu ini juga menimbulkan pro dan kontra serta menuai kritik. 

“Setelah saya menggali persoalan, mempelajari tentang latar belakang dan lain sebagainya, perlu saya tegaskan bahwa pembangunan tugu atau menara itu dibangun tahun 2018 dan sudah dinyatakan selesai final," kata Wahidin, Kamis (15/4/2021).

Tugu itu, kata dia, dibangun dengan latar belakang dan pertimbangan karena sebelumnya lokasi itu kumuh. 

Sekarang, lanjutnya, terjadi perbedaan soal Tugu Pamulang yang telah selesai dibangun 2018 tersebut, namun pihaknya meyakini bahwa bangunan tersebut merupakan simbolisasi dan juga melatarbelakangi tentang suatu kondisi.

"Bagaimana mengkolaborasi simbol-simbol yang ada, seperti di sana terdapat Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi (Puspitek) dan tiangnya yang menggambarkan tentang kondisi enam kecamatan yang ada," kata dia.

Tentunya, lanjut Wahidin, ada pertimbangan-pertimbangan filosofis yang perencana sendiri bertanggung jawab terhadap hasil dari perencanaan secara teknis.

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved