Senin, 27 April 2026

Kesehatan

Terapi Obat Pasien Kanker Hati dari Roche Indonesia Meningkatkan Harapan Hidup Lebih Lama

Obat imunoterap atezolizumab kombinasi bevacizumab telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Intan UngalingDian
Digestive & Liver Surgery
Ilustrasi seseorang menderita kanker hati. Saat ini, ada pengobatan untuk pasien kanker hati yang bisa memperpanjang hidup dari Roche Indonesia. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Pasien kanker kanker hati seperti karsinoma sel hati/hepatoseluler karsinoma/HCC punya harapan hidup.

Jadi, jangan putus asa. Ada harapan hidup lebih panjang jika melakukan terapi atau pengobatan.

Salah satu harapan pasien kanker hati dari Roche Indonesia--perusahaan farmasi-yang mengumumkan bahwa obat imunoterapi atezolizumab menjadi obat untuk pasien kanker hati.

Obat imunoterapi atezolizumab kombinasi bevacizumab telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Menurut dr Ait-Allah Mejri-Presiden Direktur Roche Indonesia, imunoterapi atezolizumab kombinasi bevacizumab menjadi obat untuk pasien kanker hati tipe karsinoma sel hati stadium lanjut.

Obat itu juga untuk pasien kanker hati yang tidak dapat dioperasi dan belum pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya.

"Persetujuan BPOM untuk imunoterapi pertama pada terapi kanker hati ini menandai era baru pengobatan kanker hati yang merupakan penyakit yang berkembang cepat," kata Mejri.

Mejri mengatakannya saat diskusi virtual yang digelar Roche Indonesia bertema, 'Era Baru untuk Pasien Kanker Hati, Peran Deteksi Dini dan Terapi Inovatif Imunoterapi untuk Kesintasan Hidup Pasien', pekan lalu.

Dia memaparkan, obat imunoterapi kanker bekerja membantu sistem imun di tubuh manusia untuk secara spesifik membunuh sel kanker. 

Studi klinis menunjukkan, penggunaan atezolizumab dikombinasikan bevacizumab meningkatkan angka kesintasan hingga 19,2 bulan atau 34 persen lebih tinggi dibandingkan pengobatan standar.

Selain itu, mencegah perburukan penyakit hingga 6,9 bulan atau perbaikan hasil pengobatan hingga 35 persen dibandingkan dengan pengobatan standar saat ini.

"Selain memperoleh kesempatan harapan hidup yang baik, pasien dapat juga menjalani hidup yang lebih berkualitas dengan profil keamanan obat yang dapat ditoleransi dengan baik," kata Mejri.

Baca juga: Manfaat Bayam Kurangi Risiko Kanker Usus Besar hingga 50 Persen

Kematian tertinggi ke-6

Kanker hati merupakan kanker paling umum ke-6 di dunia. 

Mengacu  data organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun 2020, lebih dari 900.000 orang di dunia didiagnosis menderita kanker hati.

Sedangkan di Indonesia terdapat lebih dari 21.000 pasien kanker hati. 

Sebanyak 90 persen dari kasus itu kanker hati primer yakni kanker sel hati (karsinoma sel hati/hepatoseluler karsinoma/HCC).

Publikasi retrospektif dari rumah sakit tersier (Rumah Sakit Umum Nasional Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Nasional Kanker Dharmais) mencatat antara Januari 2015 hingga November 2017, tingkat kematian pasien karsinoma sel hati sebesar 48,2 persen.

Dari tingkat kematian itu di antaranya terdapat 23,4 persen pasien meninggal dalam rentang waktu 6 bulan setelah terdiagnosis.

Menurut DR Dr Irsan Hasan SpPD-KGEH FINASIM,  karsinoma sel hati merupakan salah satu tipe kanker hati utama paling umum dengan prognosis (perjalanan penyakit) sangat buruk. 

"Salah satu penyebab tingginya tingkat mortalitas ini adalah terlambatnya diagnosis, sehingga sebagian besar pasien datang sudah dalam kondisi stadium lanjut," kata  Irsan dalam kesempatan sama.

Dia mengatakan, meskipun angka kejadian karsinoma sel hati tinggi, pasien hanya memiliki pilihan terbatas untuk pengobatan yang berdampak pada tingkat kematian  tinggi.

"Sebagian besar pasien karsinoma sel hati di Indonesia datang ketika sudah masuk stadium lanjut, sementara pilihan pengobatan yang ada sangat terbatas," kata Irsan. 

Data menunjukkan, selama 15 tahun (1998-1999 dibandingkan 2013 - 2014) tidak ada perubahan angka kesintasan signifikan untuk pasien kanker hati. 

"Pasien saat ini terus berharap akan adanya pengobatan transformatif yang bisa meningkatkan harapan hidupnya," kata dokter spesialis penyakit dalam, Konsultan Gastroentero Hepatologi, dan Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) itu.

Irsan menambahkan, disetujuinya obat imunoterapi atezolizumab kombinasi bevacizumab sebagai imunoterapi pertama untuk pengobatan pasien kanker hati tipe karsinoma sel hati stadium lanjut.

Harapannya, ada perbaikan kesintasan pasien kanker hati lebih tinggi. 

"Kami sangat berharap agar pengobatan baru ini dapat menjangkau pasien yang membutuhkan sehingga kita dapat menekan angka kematian akibat kanker hati," katanya.

Baca juga: Deteksi dan Penanganan Dini Kanker Prostat pada Pria Dewasa Perpanjang Usia hingga 10 Tahun

Pemeriksaan dini

Seorang pasien kanker hati, Evy Rachmad berharap, pengobatan kanker hati dapat ditanggung pemerintah, termasuk obat-obatan terbaru seperti imunoterapi kanker.

"Selama ini semua biaya pengobatan saya tanggung sendiri dan tidak masuk dalam BPJS," ujar Evy.

Harapan lainnya, dia bisa mendapat informasi lengkap tentang penting memeriksa risiko kanker hati secara rutin, tahapan penyakit dan  pengobatan.

"Sehingga kami sebagai pasien jelas tentang penanganan kanker hati yang kami alami," kata Evy Rachmad yang juga anggota komunitas CISC (Cancer Information and Support Center).

sKeluarga pasien kanker hati, Erla Watiningsih, mengatakan, suaminya telah meninggal dalam jangka waktu setahun setelah terdiagnosis kanker hati. 

Erla yang pendiri Komunitas Peduli Hepatitis menambahkan, pembelajaran yang didapatkan penting sekali melakukan pemeriksaan rutin untuk pasien  risiko tinggi kanker hati di antaranya hepatitis B.

"Harapan saya adalah terbentuknya sinergi antara berbagai pihak baik pemerintah, dokter, rumah sakit maupun komunitas untuk peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai deteksi dini kanker hati,” ujar  Erla Watiningsih.

Terkait deteksi dini tersebut, Dr dr Agus Susanto Kosasih SpPK(K) MARS - Spesialis Patologi Klinis ini memaparkan, semakin cepat dideteksi, maka semakin cepat mendapat penanganan tepat. 

Prognosa kanker hati juga akan semakin baik karena masyarakat berisiko harus rutin melakukan tes atau disebut surveilans untuk mendeteksi kanker hati.

"Dengan perkembangan kemajuan teknologi kesehatan, hasil pemeriksaan bagi pasien juga kini dapat lebih akurat dalam bantuan diagnosis kanker hati," kata Agus.

Dieteksi dini juga menjadi kunci dalam perbaikan kesintasan pasien kanker hati. 

"Untuk itu, pemeriksaan rutin pada pasien yang memiliki risiko tinggi seperti pasien hepatitis B dan C harus menjadi perhatian," ujar  Agus. 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved