Berita Nasional
Kepala BMKG Berikan 'Warning' pada Pemerintah, Indonesia Masuki Periode La Nina
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengingatkan pemerintah supaya waspada pada La Nina, karena bisa memicu bencana alam.
TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan kepada Pemerintah maupun masyarakat, terkait fenomena La Nina di wilayah Indonesia.
La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi.
Baca juga: Hernani Terbantu Layanan Jemput Bola Dinas Dukcapil Kota Tangerang untuk Pembuatan KK dan KIA
La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan, awal musim hujan akan masuk lebih awal yakni pada September hingga November 2021.
Ia melanjutkan, berdasarkan perhitungan BMKG sejak September 2021 dasarian III, anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah telah melewati ambang batas La Nina.
"Diperkirakan La Nina ini akan terjadi hingga level moderat hingga bulan Februari 2022. Dan diprediksi puncaknya berada di Januari dan Februari 2022," jelas Dwikorita dalam Rakornas BMKG, Jumat (29/10/2021).
Dirinya juga menjelaskan, La Nina tahun ini diperkirakan hampir serupa seperti La Nina pada periode di tahun sebelumnya.
Baca juga: Garuda Indonesia Angkut Komoditas Ekspor Unggulan Ke Dubai dan Tiongkok untuk Mendorong Sektor UMKM
Pada tahun lalu, La Nina berdampak pada meningkatnya curah hujan dari 20 persen hingga 70 persen di atas normalnya.
Dan fenomena ini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia terutama Pulau Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.
Untuk mengantisipasi dampak yang tidak diinginkan, BMKG mengajak Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga terkait pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Antisipasi La Nina.
Dwikorita menjelaskan, terdapat 4 poin utama dalam penyelenggaraan Rakornas ini.
Baca juga: Karena Bikin Malu, Pemprov DKI Dalami Dugaan Penipuan Uang Ratusan Juta Rupiah Oleh Lurah Duri Kepa
Pertama, memberikan informasi dini kondisi iklim dan kehadiran La Nina 2021/2022.
Kedua, mengidentifikasi dampak La Nina terhadap kegiatan multi sektoral.
Ketiga, evaluasi efektivitas koordinasi atau sinergi dan komunikasi dalam aksi mitigasi La Nina tahun lalu.
"Serta yang keempat, menyusun rencana aksi untuk mitigasi dampak La Nina khususnya di sektor pertanian, infrastruktur, lingkungan dan kebencanaan," pungkas Dwikorita. (Tribunnews/Ismoyo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/dwikorita.jpg)