Kabupaten Tangerang

Serikat Pekerja Temukan Keganjilan PHK Dilakukan Manajemen Hotel Aryaduta Lippo Village

Hamip menilai, alasan tersebut sangatlah tidak masuk akal, pasalnya tingkat keterisian hotel justru mencapai 80 persen selama PPKM

TribunTangerang.com/Gilbert Sem Sandro
Aksi unjuk rasa dilakukan oleh karyawan Hotel Aryaduta Lippo Village, Karawaci, Kabupaten Tangerang, Rabu (17/11/2021) 

Puluhan Karyawan Hotel Aryaduta Lippo Village Gelar Unjuk Rasa Tuntut PHK Sepihak

TRIBUNTANGERANG.COM, KARAWACI - Karyawan Hotel Aryaduta Lippo Village menemukan banyak alasan yang dikemukakan manajem tidak masuk akal.

Terungkap bahwa pihak manajemen Hotel Aryaduta Lippo Village Karawaci lebih banyak merugikan karyawannya.

Hal itu terungkap saat 70 karyawan Aryaduta Lippo Village melakukan unjuk rasa di depan Hotel Aryaduta Lippo Village, Karawaci, Kabupaten Tangerang.

Unjuk rasa karyawan Hotel Aryaduta itu menuntut keputusan manajemen hotel yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak.

Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Jabodetabek, Hamip mengatakan, pemecatan sepihak tersebut dilakukan pihak hotel kepada 96 karyawannya.

"Kami menuntut kebijakan hotel yang melakukan kebijakan melakukan pemecatan secara sepihak kepada 96 karyawannya," ujar Hamip saat diwawancarai TribunTangerang.com, Rabu(17/11/2021).

"Hari ini membawa 70 orang massa aksi untuk melakukan unjuk rasa di depan hotel," sambungnya.

Hamip, Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Jabodetabek.
Hamip, Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Jabodetabek. (TribunTangerang.com/Gilbert Sem Sandro)

Kemudian Hamip menyatakan, alasan pihak hotel melakukan pemecatan tersebut karena selama kondisi Pandemi Covid-19, pengunjung hotel menurun.

Hamip menilai, alasan tersebut sangatlah tidak masuk akal, pasalnya tingkat keterisian hotel justru mencapai 80 persen selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ditetapkan pemerintah.

Diketahui para karyawan, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) telah melakukan pemesanan hotel hingga bulan Desember mendatang, dengan jumlah pesanan mencapai 80 persen.

"Alasan dari manajemen hotel melakukan pemecatan katanya karena selama pandemi pengunjung menurun, padahal BP Migas sudah memesan hotel sampai akhir tahun 2021 nanti," kata dia.

"Dimana kerugiannya kalau begitu, padahal jelas occupancy rate hotel ini bahkan meningkat hingga mencapai 80 persen," imbuhnya.

Lebih lanjut Hampi menjelaskan, tuntutan para karyawan dalam aksi ini ialah agar pihak hotel mengembalikan status para karyawan yang telah di PHK kembali menjadi karyawan tetap.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved