Breaking News:

Wisata Bahari

Kementerian Kelautan dan Perikanan Ingin Jadikan Tidore sebagai Lokasi Wisata Bahari yang Memikat

Kepulauan Maluku yang menjadi incaran para pemburu rempah eksotik, langka, dan bernilai sangat tinggi di pasar dunia.

Editor: Sigit Nugroho
Wartakotalive.com/Mohamad Yusuf
Wisatawan diambil sample swab PCR untuk kebutuhan penerbangan, di salah satu fasilitas kesehatan di kawasan wisata daerah Batu Belig, Kerobokan, Bali, Minggu (24/10/2021) 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Kepulauan Maluku yang menjadi incaran para pemburu rempah eksotik, langka, dan bernilai sangat tinggi di pasar dunia.

Sehingga para penjelajah dan petualang, serta saudagar Renaisans Eropa menginjakan kaki di Maluku.

Plt Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kusdiantoro menerangkan, dokumentasi serta diseminasi hasil riset arkeologi Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) seperti di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara contohnya, merupakan hal yang penting.

Riset arkeologi maritim terlaksana bertujuan untuk pengelolaan wisata bahari berkelanjutan dan penguatan narasi sejarah dan budaya maritim.

Baca juga: DAFTAR Terbaru Zona Hijau Covid-19 di Indonesia: Ada Lima, Tambah Satu di Maluku

Baca juga: DAFTAR Terbaru Zona Hijau Covid-19 di Indonesia: Jadi Empat, Ada di Papua, Papua Barat, dan Maluku

“Melalui riset ini, kami harap dapat menjadikan Tidore sebagai lokasi wisata bahari yang tidak hanya mendapat perhatian wisatawan mancanegara tetapi juga wisatawan domestik,” kata Kusdiantoro di Jakarta, Rabu (30/12/2021).

Temuan artefak di Tidore Kepulauan berupa sebuah meriam dan sejumlah fragmen guci gerabah.

Untuk meriam besi yang tampak utuh ditemukan di kedalaman 37 hingga 42 meter.

Riset maritim ini juga mengalami berbagai kendala, tak hanya karena pandemi Covid-19, tetapi juga lokasi dan jarak tempuh dari pengambilan data.

BERITA VIDEO: Detik-detik Kepala Pengunjung Mal Kejepit di Eskalator

Namun demikian, tantangan tersebut tidak menjadi halangan untuk menguak potensi BMKT di kawasan perairan Indonesia.

“Kami terus berusaha mendiseminasikan hasil riset BRSDM, agar riset yang dihasilkan dapat tersampaikan kepada lembaga terkait maupun stakeholders untuk mendorong percepatan pemanfaatan hasil riset,” ujar Kusdiantoro.

“Kajian Riset Budaya Maritim dan Bawah Air Kota Tidore Kepulauan telah terlaksana sejak 2019, namun di tahun 2020 sempat terhenti karena adanya pandemi Covid-19, kemudian kita lanjutkan di 2021,” pungkas Kusdiantoro.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved