Kolom Trias Kuncahyono

Melihat Ukraina dari Kacamata Rusia

Beberapa perang dimulai ketika tindakan defensif satu negara dianggap mengancam oleh negara lain dan menghasilkan spiral aksi dan reaksi.

Istimewa
Masuknya tentara Rusia ke Ukraina terjadi setelah Presiden Viktor Yanukovych yang pro-Moskwa digulingkan pada Februari 2014. Foto Ilustrasi: Peta. 

 

Makna Geostrategis

Maka dari itu, perluasan NATO ke timur dipandang Moskwa sebagai sebuah ancaman nyata.

Sejak Perang Dingin berakhir, NATO telah memperluas ke timur dengan mengambil di 14 negara baru, termasuk negara-negara bekas Pakta Warsawa dan tiga negara Baltik (Estonia, Latvia, dan Lithuania) yang pernah menjadi bagian republik Soviet.

Perluasan itu oleh Moskwa dianggap sebagai pelanggaran, yakni melanggar “garis merah”.

Selama ini Rusia selalu menyatakan bahwa AS dan NATO telah berjanji tidak akan berekspansi ke timur, di luar perbatasan bekas Jerman Timur, di akhir era Perang Dingin.

Rusia berasumsi bahwa negara-negara itu tidak dapat memilih sendiri aliansi (militer) mana yang akan mereka masuki.

Sementara AS dan NATO berpendapat bahwa Rusia tidak dapat memutuskan siapa yang bergabung dengan aliansi militer itu.

Negara-negara itu memiliki kebebasan penuh untuk memilih. Tetapi, Rusia tidak bisa menerima itu (Alexandra M. Vacroux, 2022).

Ukraina bukan (belum) anggota NATO. Tetapi, pada KTT NATO di Bucharest, Romania (2008) dikeluarkan sebuah deklarasi yang menyatakan, “NATO menyambut baik aspirasi Georgia dan Ukraina untuk menjadi anggota NATO. Kami hari ini menyetujui bahwa negara-negara itu akan menjadi anggota NATO.”

Sejak penyingkiran presiden Ukraina yang pro-Moskwa pada tahun 2014, Ukraina bergerak makin mendekati Barat.

Bahkan ikut latihan militer bersama NATO dan menerima bantuan rudal anti-tank Javelin dari AS dan pesawat tak berawak dari Turki yang anggota NATO.

Tentu hal itu membuat Moskwa tidak sangat senang. Rusia memiliki kepentingan strategis untuk tetap menguasai Ukraina.

Dengan tetap mengontrol Ukraina, maka Rusia akan tetap mempertahankan Ukraina sebagai buffer antara NATO, Uni Eropa dan Rusia.

Jelas bagi Rusia, Ukraina memiliki nilai strategis penting.  Ukraina (juga Belarusia) menjadi pintu masuk dari Eropa ke Rusia.

Karena itu, kalau pada akhirnya pecah perang, tujuannya adalah untuk menegaskan kembali kendali dan pengaruh Rusia di Ukraina yang disebutnya sebagai “tanah Rusia.”

Dan, bagi Moskwa, perang hanya bisa diurungkan kalau: NATO mengakhiri ekspansinya, kembali sebelum ekspansi, dibongkaran senjata nuklir AS dari Eropa, dan penegasan kembali wilayah pengaruh Rusia.

Rusia tetap akan berusaha keras bahwa sekurang-kurangnya tiga negara—Ukraina dan Belarusia (pintu barat), serta Georgia (pintu selatan)—tidak akan pernah masuk dan menjadi bagian blok militer dan ekonomi Barat, tetapi tetap dapat dikendalikan oleh Moskwa. Rusia telah kehilangan tiga negara Baltik.  

Maka jika Ukraina juga Belarusia bergabung juga (dengan NATO dan UE),  front Barat Rusia akan tampak lebih lemah dan tidak aman di mata Kremlin.

Tetapi, apakah Ukraina—juga Belarusia—akan segera menjadi anggota NATO, yang berarti akan memicu konflik besar? Rasanya, untuk saat ini, selagi Ukraina masih “menjadi wilayah panas”, maka mimpinya untuk menjadi anggota NATO masih harus melalui malam panjang.

Bila hal itu terjadi, maka akan melegakan Putin yang ingin menegaskan kembali kendali dan pengaruhnya di Ukraina yang disebutnya sebagai “tanah Rusia,” tentu demi pertimbangan geostrategis.

Dan, selama dia berkuasa tidak akan semakin “dipermalukan”  karena negara-negara bekas Soviet akhirnya berturut-turut masuk ke Barat. ***

Artikel ini sudah dimuat di Harian Kompas, pada hari Jumat, 25 Februari 2022, halaman 6.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved