Kolom Trias Kuncahyono

UKRAINA: Kiev 1240, Kyiv 2022

Tradisi sejarah Soviet memandang yang terjadi saat itu sebagai pendudukan Ukraina oleh kekuatan militer Eropa Barat dan Tengah, termasuk Polandia.

www.freemalaysiatoday.com
Pengepungan Kyiv, ibu kota Ukraina saat ini mengingatkan cerita tentang Kiev 1240 dan Bahgdad 1258. Foto ilustrasi: Tentara Rusia mendekati perbatasan Ukraina. 

Penduduk kota menyaksikan salah satu pembantaian paling buruk dalam sejarah manusia: paling kurang 33.771 Yahudi dari Kiev dan daerah-daerah sekitarnya dibunuh oleh tentara SS Nazi.

Pasca-PDII, pemerintah Soviet melakukan penindasan sistematis terhadap kaum intelektual pro-Ukraina yang disebut sebagai “kaum nasionalis.”

Tindakan ini dilakukan untuk menindas, membunuh nasionalisme Ukraina.

III

Kini Kyiv—menurut Jane Lytvynenko, a senior research fellow di Harvard dari Ukraina, kata “Kiev” diambil dari bahasa Rusia, “Kyiv” bahasa Ukraina—jatuh ke tangan Rusia.

Penggunaan kata Kyiv (sesuai dengan nama—menurut legenda salah satu pendiri kota itu, yakni Pangeran Kyi.

Ia bersama dua saudara laki-laki—Shcheck dan Khoriv—dan seorang saudara perempuan, Lybid, mendirikan kota itu sekitar tahun 482.

Mereka adalah para pemimpin suku Polyania, Slav Timur.

Dalam bahasa Ukraina Kyiv berarti “kota Kyi”).

Kata “Kyiv” dipilih sebagai simbol perlawanan rakyat Ukraina dalam usaha membebaskan diri dari Uni Soviet.

Setelah sistem Uni Soviet ambruk, di Polandia, Hongaria, dan Czechoslovakia memerdekakan diri, Ukraina menyusul.

Mereka memerdekakan diri lepas dari Uni Soviet, 16 Juli 1990.

Setahun kemudian 21 Agustus 1991, mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka penuh.

Setelah Uni Soviet ambruk, 1991, kota Kiev lalu disebut Kyiv.

Dan, pada tahun 1995, pemerintah Ukraina secara resmi menyebutnya Kyiv.

Ini menegaskan pada masyarakat internasional bahwa Ukraina bukan lagi bagian dari Rusia, tetapi telah menjadi negara merdeka.

Mereka lepas-bebas dari Moskwa. Kyiv menjadi pusat pertarungan ideologi antara yang pro-Eropa (Barat) dan Russophile (pro-Rusia).

Pemilu presiden November 2004 menjadi medan pertarungan itu dan membawa Ukraina ke jurang perpecahan.

Presiden Leonid Kuchma mendukung kandidat pro-Rusia dan didukung Vladimir Putin, yakni PM Viktor Yanukovych.

Lawannya, kandidat pro-Barat didukung kelompok oposisi, Viktor Yushchenko.

Hasil pemilu putaran pertama, 31 Oktober, kedua kandidat masing-masing merebut suara 40 persen.

Yanukovych memenangi wilayah Timur, yang sebagian besar penduduknya adalah orang Rusia.

Wilayah Barat dan Kiev memilih Yuschenko.

Pada putaran kedua, November, pemerintah menyatakan Yanukovych sebagai pemenang.

Pendukung Yuschenko menuduh ada penipuan dan kecurangan.

Mereka menggelar protes massal yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Oranye.

Demonstrasi besar-besaran meletus; Pendukung Yanukovych di timur mengancam akan memisahkan diri dari Ukraina (dan bergabung dengan Rusia; Sekarang Wilayah Luhanks dan Donets sudah memisahkan diri) jika hasilnya dibatalkan.

Putaran ketiga digelar pada 26 Desember. Yuschenko menang, meraih 52 persen suara.

Ia mulai 23 Januari 2005, menjadi presiden. Kali ini, Rusia kalah.

Pada pemilu presiden 7 February 2010, kandidat dukungan Rusia, Yanukovych, menang.

Sebagai presiden, Yanukovych segera menunjukkan kecenderungannya yang pro-Rusia.

Pada April 2010, ia membuat kesepakatan dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Berdasarkan perjanjian itu Rusia bisa memperpanjang sewa atas pelabuhan di Sevastopol, pangkalan Armada Laut Hitam Rusia, hingga 2042.

Sebagai gantinya, Ukraina akan menerima pengurangan harga gas alam Rusia.

Pertarungan terus berlanjut. Frustasi rakyat terhadap pemerintah yang mengikuti kemauan Rusia, meledak mulai 21 November 2013 dan berakhir 20 Februari 2014, yang disebut sebagai Revolusi Maidan (Lapangan Kemerdekaan sama dengan Taqrir Square di Cairo).

Orang Ukraina lebih suka menyebutnya sebagai Revolusi Martabat; karena lewat revolusi ini martabat mereka sebagai bangsa dipulihkan dengan menyingkirkan presiden yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych.

Revolusi ini berdarah-darah. Menelan 108 korban jiwa. Setelah revolusi lahir, pemerintah baru berpaling ke Barat dan mencari hubungan lebih dekat dengan Uni Eropa dan NATO.

Tetapi, Rusia terus bergerak dan menganeksasi Krimea pada tahun yang sama. Kebijakan pro-Barat inilah yang sekarang ini menjadi casus belli, pemicu perang, alasan Vladimir Putih mengerahkan pasukannya masuk Ukraina. Dan, cerita Kiev 1240, berulang pada 2022 ini.

Bukan Batu Khan yang menundukkan Kyiv, tetapi Vladimir Putin.

“Razom nas bahato! Nas ne podolaty!” Bersama, kita banyak! Kita tidak dapat dikalahkan!” Teriak penduduk Kyiv di tengah gempuran meriam dan rudal Rusia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: "Kiev 1240, Kyiv 2022"

Editor : Sandro Gatra

 

 

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved