Berita Nasional

Haris Azhar: Kalau Negara Penjarakan Saya, Itu Kehormatan yang Diberikan kepada Saya

Haris Azhar ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Hertanto Soebijoto
Warta Kota/Rangga Baskoro
Haris Azhar mengaku akan sangat terhormat apabila negara hanya memberikan ruang tahanan saat dia memperjuangkan perbaikan kondisi Papua. Foto dok: Haris Azhar. 

TRIBUNTANGERANG.COM, SEMANGGI -- Aktivis HAM Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pencemaran nama baik Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Penetapan status tersangka terhadap Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti diungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan.

Haris Azhar mengaku akan sangat terhormat apabila negara hanya memberikan ruang tahanan saat dia memperjuangkan perbaikan kondisi Papua.

Video: Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti Jadi Tersangka, Kuasa Hukum: Kamis Siap Hadapi

Hal itu Haris sampaikan usai ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pencemaran nama baik terhadap Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Kata Haris, apabila ia ditahan, maka itu sebuah fasilitas yang diberikan negara karena ia mengungkapkan fakta pejabat negara yang memiliki kepentingan ganda dalam bisnis dan politik.

"Kalau negara hanya bisa beri status tahanan dan penjarakan saya, saya anggap itu kehormatan kepada saya atau fasilitas negara yang diberikan kepada saya saat kami mengungkapkan fakta," ujar Haris dalam siaran pers secara streaming Sabtu (19/3/2022).

Baca juga: Apabila Luhut Tolak Mediasi, Haris Azhar Sarankan Polisi SP3 Kasus yang Menjeratnya

Baca juga: Mediasi Haris Azhar dan Menko Luhut Kembali Gagal, Belum Ada Kepakatan Jadwal

Menurut Haris Azhar, penetapan tersangka terhadapnya menjadi bukti bahwa ada proses sistematis untuk membungkam akademisi.

Penetapan tersangka ini juga sebagai upaya menghilangkan cara-cara berpikir akademis.

"Jadi hanya menonjolkan brutalitas kepanikan saat ada kritik kepada kekuasaan, dan ini yang digandrungi orang-orang yang sedang ada pada jabatan kekuasaan," tuturnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved