Pakar Unair Jelaskan Aktivitas Otak Manusia Menjelang Kematian

Sebuah penelitian dari University of Tartu Estonia oleh Dr Raul Vicente merekam aktivitas otak manusia sesaat menjelang kematian.

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
kantipurnetwork.com
Ilustrasi orang meninggal. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG -- Bagaimana cara kerja otak saat seseorang menghadapi kematian?

Apakah mati otak, atau otak tetap bekerja hingga detak jantung melemah?

Sebuah penelitian dari University of Tartu Estonia oleh Dr Raul Vicente dan tim memiliki jawabannya. Mereka merekam aktivitas otak manusia sesaat menjelang kematian. Ia menggunakan alat continuous electroencephalography (EEG) pada pasien berusia 87 tahun yang menderita epilepsi.

Temuan ini jadi yang pertama hingga menjadi perbincangan khalayak terutama di bidang medis.

Baca juga: Tergiur dengan Tawaran Dapat Bansos, Wanita Lansia 65 Tahun Justru Kehilangan Perhiasan Emas 15 Gram

Menanggapi penemuan tersebut, Kurnia Kusumastuti, yang merupakan spesialis neurologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) menjelaskan, menjelang kematian seseorang akan melewati step-step penurunan kesadaran. Sehingga saat sudah tidak sadar, pasien tidak akan bisa mengingat memori selama hidupnya yang baik atau buruk.

Menurutnya, penemuan tersebut dilakukan pada seorang pasien yang mati mendadak, di mana kesadarannya menurun secara drastis. "Saat direkam menggunakan EEG, pasien yang menderita epilepsi terkena serangan jantung dan tidak ada darah yang mengalir ke otak. Sehingga tidak ada step-step jelang kematiannya," kata Kurnia dilansir dari laman Unair.

Baca juga: Menurut Komarudin, Langkah ini dapat Menyelamatkan Seseorang dari Kegagalan, Apa Saja?

EEG adalah alat pendeteksi aktivitas gelombang listrik pada otak melalui graph atau gambar. "Jadi dengan EEG kita bisa melihat fungsi otak yang ditinjau dari kelistrikannya, terdapat pola gelombang listrik normal. Jadi jika ada penyimpangan gelombang, tandanya ada gangguan pada fungsi otak," ujar Kurnia dikutip dari Kompas.com.

Menjelang kematian, gelombang frekuensi listrik pada otak akan melambat. Normalnya, gelombang otak sebanyak 9-10 gelombang per detik, sedangkan pada orang yang kesadarannya menurun menjelang kematian hanya 2-3 gelombang dalam 1 detik.

Baca juga: Mantan Rektor Universitas Trisaksi Prof Dr Thoby Mutis Tutup Usia

Aktivitas listrik pada otak normal diukur dalam satuan microvolt, yaitu 70-100 microvolt. Namun jelang kematian amplitudo otak semakin rendah yaitu kurang dari 2 microvolt.

"Hasil pengamatan EEG otak manusia yang normal dengan yang terkena penyakit epilepsi menunjukkan pola gelombang yang sama, yaitu lebih dari 2 microvolt dan kurang dari 10 microvolt. Namun terlihat perbedaan pola gelombang pada 1-2 jam menjelang kematian," ungkap Kurnia.

Hal tersebut dapat dilihat dari gambaran gelombang yang lambat, amplitudo yang terus menerus rendah, dan aktivitas ritmis yang berulang-ulang dalam periode waktu yang sama pada pengidap epilepsi.

Baca juga: Remaja di Kota Tangerang Alami Kecelakaan Saat Buat Konten Menghentikan Truk

Baca juga: KEJI! Suami Habisi Istri dan Anaknya di Serang, Tetangga: Sebelum Kejadian Ada Gelagat Aneh Pelaku

Sedangkan pada otak orang sehat akan meninggal dengan tidak adanya aktivitas ritmis, dan amplitudonya yang berangsur angsur rendah.

Selain menggunakan alat EEG, aktivitas otak manusia menjelang kematian juga dapat diketahui melalui pola napas dan ukuran pupil mata.

"Pola napas dikendalikan oleh otak, pola tersebut dapat diketahui jelang kematian jika terjadi apnea, yaitu napas yang berhenti," kata Kurnia.

Pola pupil mata dalam keadaan normal akan membesar saat diberi sinar, kemudian mengecil. Apabila pupil tidak mengecil artinya fungsi saraf otaknya sudah terganggu. (*)

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved