Hari Waisak

Klenteng Bio Kanti Sara Sudah 3 Abad Melayani Umat Budda di Setu Kota Tangerang Selatan

Klenteng Bio Kanti Kara sudah berdiri sejak 3 abad lalu, tepatnya dibangun tahun 1711 oleh umat Buddha dari Tiongkok, Kang Kia Nay.

Tribun Tangerang/Rafzanjani Simanjorang
Klenteng Bio Kanti Sara di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, sudah berdiri sejak tahun 1711. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG SELATAN - Klenteng Bio Kanti Sara tempat ibadah umat Buddha terletak di Kelurahan Bakti Jaya, RT 003/RW 02, Kelurahan Setu, Kota Tangerang Selatan.

Namanya memang tak setenar klenteng  di Jakarta.

Namun, klenteng tersebut sudah berdiri tiga abad lalu, tepatnya dibangun tahun 1711 oleh umat Buddha dari Tiongkok, Kang Kia Nay.

Klenteng Bio Kanti Sara berdiri megah di sudut perumahan warga. Suasananya hening, bersih, dan sejuk.

Kang Swi Yong (83), pengurus dan keturunan dari Kang Kia Nay (generasi ketiga) mengatakan, jemaat yang beribadah di klenteng Bio Kanti Sara memang tak sampai ratusan.

Pasalnya, lokasi klenteng jauh dari pemukiman umat Buddha, melainkan berada di tengah-tengah pemukiman mulism dan kristiani.

Baca juga: Dihimpit Gedung-gedung Tinggi, Begini Persiapan Kelenteng Tua di Setiabudi Sambut Imlek

Baca juga: Polres Tangerang Kota Lakukan Pengamanan di Tiga Vihara, Libatkan Tim Jibom dan Brimob

"Umat yang datang untuk ibadah biasanya 15 atau 20'an umat. Itu dalam setengah bulan. Setengahnya lagi sama," ujar Kang Swi Yong kepada Tribuntangerang.com, Senin (16/5/2022).

Begitu juga saat hari raya umat Buddha, klenteng itu tetap seperti hari biasa  hanya ada belasan umat.

Biasanya, umat yang datang berasal dari Pamulang atau BSD. 

Pernah ada jemaat yang datang dari Serang hingga Purwakarta.

Biasanya, jemaat memilih ibadah di Klenteng Bio Kanti Sara untuk lebih khusyuk.

"Mereka biasanya berdoa dan memohon diberikan kesehatan serta berkat untuk usaha," katanya.

Menurut Kang Swi Yong, klenteng Bio Kanti Sara sudah direnovasi beberapa kali.

Renovasi terakhir tahun 1990'an oleh Kang Swi Yong sendiri.

"Jadi tahun 1711 dulu ini masih bilik bambu. Beberapa tahun setelahnya, menjadi bangunan kayu."

"Tahun 1980'an mulai semen (bata merah), dan semi permanen. Baru tahun 1990'an menjadi bangunan permanen," ujar Kang Swi Yong.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved