Harga Bahan Pangan

Perang Rusia-Ukraina Timbulkan Krisis Pangan, Jokowi Bertekad Temui Putin

Memanasnya konflik Rusia dengan Ukraina menempatkan sejumlah negara dalam zona bahaya. Indikatornya, harga bahan pangan dan energi melonjak tinggi

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
Mikhail Klimentyev/TASS
Presiden RI Joko Widodo bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, beberapa waktu lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin membahas soal Ukraina dan G20 bersama Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Kamis (28/4/2022). 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Memanasnya konflik Rusia dengan Ukraina menempatkan perekonomian Indonesia dan sejumlah negara berkembang dalam zona bahaya.

Indikatornya, berbagai harga pangan dan energi di pasar global kini melonjak tinggi. Kondisi tersebut tentunya dapat menjadi tantangan terberat bagi Indonesia.

“Hal terpenting yang saya khawatirkan adalah harga makanan. Jadi, kami ingin perang di Ukraina dihentikan, diselesaikan dengan negosiasi sehingga kami dapat berkonsentrasi pada ekonomi,” kata Presiden Joko Widodo dalam wawancara eksklusif di Kota Serang, Banten.

Kekhawatiran tersebut tak hanya dirasakan Indonesia. Hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia juga merasakannya.

Baca juga: Satgas Pangan Temukan 1,1 Kg Minyak Goreng di Gudang, Diduga Ada Praktik Penimbunan

Baca juga: Jangan Buang Sisa Bahan Pangan, Cookpad Indonesia Bantu Bikin Resep Masakan

Atas situasi ini, Presiden RI Jokowi dikabarkan tengah berencana mengadakan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 30 Juni mendatang, untuk membahas permasalahan krisis pangan, dikutip dari Kantor berita Rusia, Tass.

Pertemuan tersebut akan dilakukan Jokowi setelah menghadiri pertemuan Kelompok G-7 yang berisikan negara-negara ekonomi maju, di Jerman pada 26 sampai 28 Juni 2022.

"Setelah G-7, saya akan mengunjungi beberapa negara yang terkait masalah pangan,” kata Jokowi kepada CNBC Internasional.

Meskipun sejumlah negara telah melayangkan sanksi ke Rusia, hingga kini Indonesia masih memegang teguh untuk terus bersikap netral.

Bahkan pada April lalu ketika Zelensky meminta bantuan Indonesia untuk mengirimkan senjata, Jokowi dengan tegas menolak permintaan tersebut dengan menawarkan bantuan kemanusiaan sebagai gantinya.

Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya perpecahan konflik yang makin parah, yang dikhawatirkan dapat memperburuk krisis pangan dunia.

Ini mengingat Rusia dan Ukraina sendiri merupakan pemasok pangan dengan komoditas gandum dan biji – bijian terbesar di dunia.

Bahkan Program Pangan Dunia PBB mencatat 323 juta orang di tahun ini tegah menghadapi kerawanan pangan parah, sebagai akibat dari melonjaknya berbagai bahan pangan imbas dari perang di Ukraina.

Perdagangan RI-AS

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved