Senin, 27 April 2026

Keadilan untuk Yosua

CCTV Tunjukkan Ferdy Sambo Lari ke Rumah Dinas, Putri Menangis dan Kembali ke Rumah Pribadi

Komnas HAM telah meneliti rekaman CCTV di sekitar rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Rekaman itu memperlihatkan Ferdy Sambo lari ke rumah dinas

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
Tribun Tangerang/Miftahul Munir
Police line dipasang di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Sabtu (23/7/2022). 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan, penyelidikan kasus penembakan Brigadir Yosua atau Brigadir J terkendala ketiadaan rekaman CCTV dinas Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Durentiga, Jakarta Selatan.

Peristiwa yang tidak terekam CCTV adalah aktivitas di rumah dinas Ferdy Sambo antara pukul 16.37 hingga pukul 17.00 WIB. Sedangkan penembakan yang menewaskan Brigadi Yosua diperkirakan terjadi menjelang pukul 17.00.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik menyatakan pihaknya telah meneliti rekaman CCTV di sekitar rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Durentiga, Jakarta Selatan.

Rekaman itu antara lain menunjukkan pada pukul 16.37, istri Ferdy Sambo, Ny Putri Candrawathi meninggalkan rumah pribadi di Jalan Saguling menuju rumah dinas. Kedua rumah berjarak 500 meter.

Putri Candrawathi menumpang mobil dan dikawal oleh Brigadir J dan Bharada E.

Mendekati pukul 17.00, Ferdy Sambo meninggalkan rumah pribadi. Dia naik mobil yang disopiri pengawal dan dipandu kendaraan patroli dan pengawalan (patwal).

Ferdy bergerak menjauhi rumah pribadi namun tak menuju rumah dinas.

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti. Diduga saat itu Ferdy Sambo menerima telepon dari Putri yang melaporkan peristiwa adu tembak di rumah dinas.

"Kata penyidik, ada telepon untuk Pak Sambo dari istrinya yang menjelaskan ada peristiwa itu," ujar Ahmad Taufan Damanik dalam wawancara di Metro TV.

Kendaraan patwal dan mobil yang ditumpangi Ferdy Sambo berusaha putar balik. Saat yang sama, Ferdy Sambo keluar dari mobil dan lari ke rumah dinas.

Taufan menambahkan, rekaman CCTV yang lain menunjukkan, pada waktu hampir bersamaan, Putri Candrawathi menangis dan kembali ke rumah pribadi.

"Dari CCTV di rumah pribadi, kelihatan Ibu kembali ke rumah (pribadi) didampingi asisten, dan menunjukkan wajahnya menangis," ungkap Taufan.

Terkecuali korban meninggal dan Putri Candrawathi, orang-orang yang ada di rumah dinas telah ditemui Komnas HAM.

Bahkan Komnas HAM telah bertemu Bharada E yang mengaku sebagai adalah orang yang menembak Brigadir J.

Seluruh informasi yang telah dihimpun, akan menjadi utuh jika Putri Candrawathi mengungkap peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Lebih jauh, Ahmad Taufan Damanik menjelaskan, pihaknya telah mempelajari rekaman CCTV rumah pribadi Irjen Ferdy Sambo. Rumah tersebut, pada 8 Juli 2022 sore, difungsikan sebagai lokasi tes PCR keluarga Ferdy Sambo dan para pengawal yang baru tiba dari Magelang.

Ahmad Taufan Damanik menjelaskan, rekaman CTTV yang dipelajari dimulai dari pukul 15.29 ketika Ferdy Sambo tiba di rumah pribadi di Jalan Saguling.

Pada pukul 15.40, Putri Candrawathi dan rombongan tiba di rumah pribadi. "Kelihatan ada Bharada E, ada almarhum, ada ART, dan ada dua staf," ujar Ahmad Taufan Damanik.

Informasi lain yang diperoleh Komnas HAM, selama proses tes PCR di rumah pribadi tersebut, Brigadir Yosua dan sesama pengawal Irjen Ferdy Sambo bercengkerama di dekat garasi.

Pukul 16.31, Brigadir Yosua memisahkan diri karena menerima telepon dari kekasihnya, Vera Simanjuntak. Komunikasi lewat telepon itu diperkirakan tak berlangsung lama.

Pada pukul 16.37, Putri Chandrawathi, bersama pengawalnya menuju rumah dinas disebut sebagai lokasi penembakan. Para pengawal Putri Chandrawathi adalah Brigadir J dan Bharada E.

"Beberapa menit kemudian, Pak Ferdy Sambo juga meninggalkan rumah pribadi dengan arah yang berbeda, dengan ADC (ajudan) dan motor patwal," katanya.

Masih di sekitar rumah pribadi, mobil yang ditumpangi Ferdy Sambo berhenti. "Dari CCTV tetangga, kelihatan motor patwalnya berhenti, mobilnya (Irjen Ferdy Sambo) berhenti. Kata penyidik, itu karena ada telepon dari ibu ke pak Ferdy yang menjelaskan ada masalah (penembakan). Ia berusaha berbalik, mobil berusaha berbalik, motor berbalik," kata Ahmad Taufan Damanik.

Ahmad Taufan Damanik mengatakan rumah dinas Kadiv Propam merupakan titik krusial dalam kasus ini.

"Titik krusial itu di TKP (tempat kejadian perkara) atau di rumah yang diduga TKP itu," kata Taufan di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Taufan menuturkan Komnas HAM akan melakukan pemeriksaan kamera pengintai atau CCTV apabila mendapatkannya.

"Kami akan periksa (CCTV), tapi yang jelas kalau CCTV itu belum bisa didapatkan," ujarnya.

Di sisi lain, Taufan mengaku pihaknya kesulitan mengungkap kasus tersebut lantaran CCTV di rumah dinas Ferdy Sambo tak berfungsi.

"Menurut mereka, CCTV itu tidak berfungsi. Ini problem besar," ucapnya. (*)

Sumber: Tribunnews.c,om

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved