Kasus Brigadir J

Bharada E Diduga Cuma Mengaku Sebagai Penembak Yosua, Melindungi Siapa?

Kamarudin Simanjuntak menilai Bharada E hanya dikorbankan dalam kasus penembakan Brigadir Yosua. Keterangan Bharada E dinilai ada yang janggal

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
Kompas.com/Vitorio Mantalean
Bharada E (baju hitam), ajudan Kadivpropam nonaktif Polri Irjen Ferdy Sambo yang dituduh menembak Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo pada 8 Juli 2022, selesai diperiksa Komnas HAM RI, Selasa (26/7/2022). 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG -- Kasus penembakan yang menewaskan Brigadir Yosua Hutabarat telah sampai pada fase penetapan tersangka.

Bareskrim menyematkan status tersangka kepada Bharada E, salah satu pengawal Irjen Ferdy Sambo dan keluarga. Polisi muda ini dijerat pasal 338 KUHP tentang pembunuhan juncto pasal 55 dan 56 KUHP tentang persekongkolan dan ikut serta. Dua pasal terakhir menunjukkan bahwa Bharada E bukan pelaku tunggal.

Pengacara keluarga almarhum, Kamarudin Simanjuntak menilai Bharada E hanya dikorbankan dalam kasus ini. Kamarudin tak percaya teori baku tembak pada kasus ini.

Kamarudin juga membeberkan sejumlah keterangan Bharada E yang dinilai janggal.

Salah satu di antaranya mengenai beda pernyataan dari pihak Bharada E yang menyebut penembakan dilakukan dari jarak jauh. Belakangan, Bharada E pun merubah keterangannya.

"Yang lucu, Bharada E tadinya hanya menembak dari atas, setelah saya buka satu per satu, dia bilang 'saya tembak lagi supaya benar-benar lumpuh'," kata Kamarudin dalam program Dua Sisi tvOneNews, Kamis (4/8/2022).

"Itu karena Bharada E tidak punya kecerdasan untuk itu, Bharada E itu enggak cerdas, dia diumpankan," ujar Kamarudin.

Kamarudin juga mempertanyakan mengenai Bharada E yang dinilai sebagai penembak jitu.

"Bharada E sempat diisukan sebagai pelatih, seolah-olah kita bodoh mana ada bhayangkara dua (bharada) pelatih sniper, padahal dia baru belajar megang senjata, nembaknya juga belum lurus," Kamarudin.

"Oleh karena itu jangan menebar hoaks, kita semua sudah pintar," ujarnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Bharada Richard Eliezer alias Bharada E, Hervan D Merukh mengaku merasa bingung atas pasal yang disangkakan kepada kliennya khususnya pasal 55 dan 56 KUHP tentang Penyertaan dalam Pidana.

Sebagai informasi terkait pasal tersebut, berarti adanya sangkaan bahwa Bharada E tidak melakukan sendiri terkait kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Kebingungan Hervan lantaran adanya perbedaan versi antara apa yang dikatakan Bharada E selaku klien kepada dirinya dengan pasal yang disangkakan.

Adapun kronologi yang dibeberkan oleh Bharada E, dirinya melakukan tembak-menembak dengan Brigadir J secara sendiri.

"Terkait dengan (pasal) 55 dan 56 (KUHP), itu-lah yang kami juga masih bertanya dan masih bingung. Karena berdasarkan fakta yang disampaikan oleh klien kami, jadi pada saat itu hanya klien kami dan Brigadir J yang melakukan tembak-menembak," katanya, dalam Indonesia Lawyers Club, Jumat (5/8/2022).

"Jadi kita bertanya, siapa yang membantu gitu dan itu setahu saya seiring dengan informasi yang beredar di media?" imbuhnya.

"Jadi tidak ada pihak lain (yang diduga ada yang membantu Bharada E)," kata Hervan.

Meski kliennya telah ditetapkan sebagai tersangka, Hervan masih meyakini bahwa Bharada E menerima tembakan terlebih dahulu dan membalasnya kepada Brigadir J sebagai bentuk bela diri.

Hervan juga mengungkapkan jika tidak ada Bharada E saat adanya dugaan pelecehan terhadap istri eks Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, maka pihak lain yang berada di tempat kejadian perkara akan tidak selamat.

Hanya saja, ia tidak menjelaskan siapa saja yang berada di tempat kejadian perkara tersebut.

"Ada yang disampaikan ke kita bahwa jika tidak ada Bharada E saat itu mungkin yang lain itu juga, nyawanya mungkin bisa hilang juga saat itu," kata Hervan.

"Jadi Bharada E saat itu bisa dianggap sebagai pahlawan. Jadi saat itu Bharada E menjalankan tugas, membela diri terhadap ancaman yang ada pada dirinya," jelasnya.

Diberitakan Tribunnews sebelumnya, Bharada E telah ditetapkan sebagai tersangka terkait tewasnya Brigadir J.

Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian mengungkapkan penetapan ini berdasarkan pemeriksaan kepada 42 saksi dari beberapa pihak seperti forensik dan keluarga Brigadir J.

"Penyidik sudah melakukan pemeriksaan kepada 42 saksi baik dari unsur biologi kimia forensik, metalurgi balistik forensik, IT forensik, dan kedokteran forensik," kata Hervan.

"Termasuk telah melakukan penyitaan terhadap sejumlah barang bukti baik berupa alat komunikasi, CCTV, dan barang bukti yang ada di TKP yang sudah diperiksa oleh Laboratorium Forensik maupun yang sedang dilakukan pemeriksaan," ujarnya pada Rabu (3/8/2022).

Kemudian, Brigjen Pol Andi Rian mengatakan Bharada E disangkakan dengan pasal 338 KUHP tentang Tindak Pidana Pembunuhan juncto pasal 55 dan 56 KUHP.

"Dengan sangkaan pasal 338 KUHP juncto pasal 55 dan 56 KUHP. Pemeriksaan atau penyidikan tidak berhenti di sini, tetap berkembang," ujarnya.

Dengan ditetapkan Bharada E sebagai tersangka, Brigejn Pol Andi Rian menegaskan bahwa tidak ada pembelaan diri terkait tewasnya Brigadir J. "Bukan bela diri," katanya. (*)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved