Suap Rektor Unila

Borok Jalur Mandiri Terungkap, Rektor Unila Pasang Tarif Sampai Rp 350 Juta per Mahasiswa

KPK mendapatkan data bahwa Rektor Unila Prof Karomani mematok tarif Rp 100 juta hingga Rp 350 juta untuk meluluskan mahasiswa baru di jalur mandiri

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
Tribun Lampung
Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Karomani yang dikabarkan terjaring OTT KPK di Bandung, Sabtu (20/8/2022) dini hari. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG -- Borok jalur mandiri penerimaan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) terungkap setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Rektor Unila Prof Karomani.

KPK menangkap Rektor Unila Karomani pada Sabtu (20/8/2022) dini hari. Setelah memeriksa yang bersangkutan, KPK mengukuhkan Rektor Unila Prof Karomani tersangka kasus suap.

Dalam pemeriksaan dan penyidikan, KPK mendapatkan data bahwa Rektor Unila Prof Karomani mematok tarif Rp 100 juta hingga Rp 350 juta untuk meluluskan calon mahasiswa baru tahun 2022 yang mengikuti seleksi jalur mandiri di Unila.

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan tarif Rp 100 juta merupakan jumlah minimal untuk meluluskan calon mahasiswa tersebut.

"Nominal uang yang disepakati antara pihak KRM (Rektor Unila-Red) diduga jumlahnya bervariasi, dengan kisaran minimal Rp 100 juta sampai Rp 350 juta untuk setiap orangtua peserta seleksi yang ingin diluluskan," kata Ghufron dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Minggu (21/8/2022).

Ghufron mengatakan kasus ini bermula saat universitas negeri di Lampung itu membuka Seleksi Mandiri Masuk Unila (Simanila) tahun akademik 2022.

Video terkait peristiwa di Lampung:

Sebagai rektor, Karomani berwenang mengatur mekanisme seleksi tersebut. Guru Besar Ilmu Komunikasi itu diduga aktif menentukan mahasiswa yang lulus Simanila.

Karomani memerintahkan bawahannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik Heryandi dan Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila bernama Budi Sutomo untuk menyeleksi calon mahasiswa baru yang lulus secara personal. Proses ini juga melibatkan Ketua Senat Unila Muhammad Basri.

Seleksi tersebut berkaitan dengan kesanggupan membayar sejumlah uang dari orangtua calon mahasiswa yang ingin lulus Simanila. Uang tersebut di luar pembayaran resmi yang telah ditentukan pihak kampus.

"Karomani juga diduga memberikan peran dan tugas khusus untuk Heryandi, Muhammad Basri dan Budi Sutomo untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan pihak orang tua," kata Ghufron.

Selain kepada tiga orang tersebut, Karomani juga memerintahkan salah seorang dosen bernama Mualimin untuk ikut mengumpulkan uang dari orangtua calon mahasiswa.

Pembayaran dilakukan setelah calon mahasiswa baru tersebut dinyatakan lulus berkat bantuan Karomani.

Ghufron mencontohkan, Mualimin mendapat perintah Karomani untuk mengambil uang suap tersebut Rp 150 juta dari salah seorang keluarga calon mahasiswa yang diluluskan bernama Andi Desfiandi. U

Uang tersebut kemudian diambil di salah satu tempat di Lampung. "Seluruh uang yang dikumpulkan KRM melalui Mualimin yang berasal dari orangtua calon mahasiswa yang diluluskan Karomani berjumlah Rp 603 juta," ujar Ghufron.

Sebanyak Rp 575 juta uang tersebut kini telah digunakan Karomani untuk keperluan pribadinya. Selain dari Mualimin, KPK juga menemukan aliran dana untuk Karomani juga melalui Budi Sutomo dan Muhammad Basri.

Uang tersebut juga bersumber dari keluarga mahasiswa yang diluluskan oleh Karomani. "Atas perintah Karomani, uang tersebut telah dialih bentuk menjadi tabungan deposito, emas batangan dan juga masih tersimpan dalam bentuk uang tunai dengan total seluruhnya sekitar Rp 4,4 miliar," kata Ghufron.

Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan delapan orang yakni, Karomani; Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila Budi Sutomo; Ketua Senat Unila Muhamad Basri dan ajudan Karomani bernama Adi Tri Wibowo.

Pejabat lain yang diamankan KPK adalah Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi, Dekan Fakultas Teknik Helmy Fitriawan, dan dosen bernama Mualimin di Lampung.

Sementara, Andi Desfiandi ditangkap tangan di Bali. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved