Krisis Pangan

Joko Widodo Singgung Krisis Pangan, Jaka Widada Beberkan Tanda-tandanya

Presiden Joko Widodo menyinggung krisis pangan dunia. Akademisi Ir Jaka Widada M.P. Ph.D menyatakan sejumlah negara sudah alami krisis pangan.

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
vokasi.kemdikbud.go.id
Ilustrasi petani memanen padi. Di acara Musyawarah Rakyat (Musra) Jawa Barat, Minggu (28/8/2022),Presiden Jokowi mengingatkan bahwa saat ini sejumlah negara mengalami krisis pangan. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG -- Presiden Joko Widodo menyinggung krisis pangan dunia di acara Musyawarah Rakyat (Musra) Jawa Barat yang digelar relawan Jokowi di Arcamanik, Bandung, Minggu (28/8/2022). Jokowi menyatakan, ada 82 negara yang mengalami kekurangan pangan akut. Sebagian di antaranya bahkan sudah tergolong mengalami kelaparan.

Menurut Jokowi, Indonesia mampu bertahan dari ancaman krisis pangan berkat para petani. "Ini menunjukkan bahwa kerja keras kita membangun infrastruktur pertanian, baik itu berupa bendungan, baik itu berupa embung, baik itu berupa irigasi itu membuahkan hasil," katanya.

Di kalangan akademisi, Ir Jaka Widada M.P. Ph.D juga telah mengingatkan potensi krisis pangan 2022. Bahkan, menurut dia, beberapa negara ternyata sudah mulai merasakan dampaknya.

Jaka Widada menyatakan tanda-tanda krisis pangan antara lain iklim yang tidak menentu, hujan ekstrem, bencana alam dan lain-lain. Akibatnya petani gagal panen karena kebanjiran atau kekeringan dan gagal panen karena ledakan hama dan penyakit.

Video panen sayur untuk bahan pangan keluarga:

"Itu sebenarnya tanda-tanda krisis pangan akan terjadi. Jumlah penduduk terus naik, sementara kenaikan jumlah pangan tidak seimbang dengan kenaikan jumlah penduduk," kata Jaka Widada di Fakultas Pertanian UGM, Rabu (22/6/2022).

Bahkan, katanya, FAO sebagai badan pangan dunia memperkirakan di tahun 2050 penduduk dunia tembus 10 miliar. Jumlah penduduk yang sedemikian besar tersebut tentunya memerlukan pangan yang sangat luar biasa jumlahnya.

Agar tidak terjadi kelaparan maka harus ada peningkatan produksi pangan dunia. Produksi pangan tersebut idealnya untuk saat ini harus berkisar 70 persen, jika sebagian negara masih sekitar 10 persen maka bukan persoalan mudah untuk mengejarnya.

"Memang antar negara yang satu dengan negara yang lain beda-beda. Bisa-bisa di tahun-tahun itu akan banyak tragedi kelaparan juga. Untuk negara-negara seperti Cina, Israel, Amerika, Uni Eropa sejak sekarang sudah mempersiapkan," kata Jaka Widada dikutip dari www.ugm.ac.id.

Ia menjelaskan untuk menghadapi krisis pangan yang mungkin terjadi ini ada beberapa upaya yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat. Di antaranya bagaimana upaya menghadapi perubahan iklim, pengembangan varietas yang adaptif, persoalan pupuk, persoalan perilaku tidak boros dan persoalan regenerasi petani.

Perubahan iklim yang terjadi saat ini menjadi kendala tersendiri dalam pertanian. Pemanasan global yang menjadikan suhu lebih panas dan CO2 lebih tinggi menjadi sangat berpengaruh terhadap hasil pertanian.

Menurut Jaka tidak hanya menurunkan hasil produksi, kondisi ini bisa berdampak pada gagal produksi. Persoalan yang dihadapi diantaranya persoalan air, dan jika masyarakat saat ini mengandalkan air tanah sebagai sumber pengairan maka dikhawatirkan 10 tahun kedepan sumber-sumber air habis dan akan memunculkan kekeringan permanen di sejumlah daerah.

"Karenanya apa yang dilakukan Kementerian PUPR dalam membangun sejumlah embung sudah benar meski terkadang belum pas karena dilakukan dengan tidak memperhatikan posisi strategis embung sebagai daerah tampungan air," ucapnya.

Hal lain yang harus diselesaikan adalah terkait persoalan pengembangan varietas-varietas tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim. Sebagai contoh yang sudah dilakukan adalah pengembangan varietas Gama Gora yang didesain varietasnya kurang lebih sama dengan varietas yang ada saat ini tetapi dengan kebutuhan air yang jauh lebih sedikit.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved