Lifestyle

Dulu Banyak Diderita Mulai Usia 50 tahun ke atas, Kini Stroke Bergeser Keusia 20 Sampai 30 Tahun

Dahulu Stroke mulai dari 50 tahun ke atas, sekarang bergeser ke 20 sampai 30 tahun ada juga yang sudah terkena stroke. Lebih ke pola hidup yang salah.

Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Lilis Setyaningsih
Tribun Tangerang/Yolanda Putri Dewanti
Dokter spesialis saraf dr Nurul Rakhmawati SpN MARS berdinas di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Kramat jati, Jakarta Timur. Dia mengatakan, stroke bisa menyerang siapa pun, termasuk kaum muda usia belasan. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Stroke merupakan satu di antara masalah kesehatan yang tak memandang usia.

Tak hanya orang tua, stroke berpotensi menyerang orang yang usianya relatif muda dan masih produktif.

Kebanyakan faktor risiko penyebab stroke bisa dikendalikan.

Dengan mengenalinya dan menjalankan pola hidup sehat, penyakit ini sebenarnya bisa dicegah.

Demikian penjelasan dokter spesialis saraf, dr Nurul Rakhmawati, Sp.N, MARS. Sewaktu diwawancarai jurnalis Warta Kota Yolanda Putri Dewanti di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Kramatjati, Jakarta Timur, Selasa (13/9) lalu, dokter kelahiran Jakarta 9 September 1985 ini menjelaskan apa saja faktor penyebab stroke dan bagaimana cara pencegahannya.

Nurul merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (2003-2011), Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (2015-2018), dan Kajian Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia (2020-sekarang).

Sejak lulus dari FKKMK UGM sampai detik ini, Nurul bertugas di RS Pusat Otak Nasional (RS PON).

Ia menangani mulai dari otak sampai persarafan tepi lainnya. Berikut hasil wawancara dr Nurul bersama Warta Kota:

Apa saja suka duka selama bertugas di RS PON?

Sama banyaknya. Sukanya itu kami senang sekali bisa mengobati orang terus bulan depannya pasien tersebut datang dengan kondisi lebih baik.

Pasiennya pas datang bilang begini, "Dokter Alhamdulillah saya sudah bisa jalan".

Nah buat kami para dokter, bila ada pasien yang seperti itu seperti ada kepuasan tersendiri.

Tetapi kami sedih ketika pasien belum ada perkembangan atau bahkan mengalami pemburukan.

Kalau misalnya berhadapan dengan pasien, banyak juga keluarga pasien yang menunjukkan kepedulian mereka.

Terkadang saat sedang praktik, saya dibawain makan atau sebagainya. Menurut saya itu bayaran terbesar, jadi sudah seperti keluarga sendiri.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved