Kerusuhan Kanjuruhan

Rekonstruksi Kerusuhan Kanjuruhan, Adegan Penembakan Gas Air Mata Dilakukan Simbolik

Proses rekonstruksi kerusuhan Kanjuruhan  digelar Polri, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), dan kejaksaan RI.

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Intan Ungaling Dian
twitter @Bagasdiv123
Ilustrasi seorang suporter berjaket hitam berlari sembari memukul kepala belakang pemain sepak bola sebelum peristiwa kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur terjadi, Sabtu (1/10/2022) malam. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Rekonstruksi tragedi atau kerusuhan di Stadion Kanjuruhan , Malang, Jawa Timur, dibeberkan Polri.

Proses rekonstruksi kerusuhan Kanjuruhan  digelar Polri, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), dan kejaksaan RI.

Dalam proses rekonstruksi tersebut, ada sebanyak 30 adegan yang diperagakan.

Ada 3 tersangka yang memeragakan peristiwa tersebut terjadi. Ketiganya yakni Kompol WSP, AKP BSA, dan AKP H.

Kepala Divis Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, rekonstruksi itu menampilkan adegan mulai dari dilakukan persiapan pengamanan di Stadion Kanjuruhan.

Lalu, proses pertandingan hingga pertandingan berakhir antara Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Apel pasukan sebelum pertandingan dipimpin oleh mantan Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat sekira pukul 15.45 WIB.

"Kemudian pertandingan dimulai pukul 20.00 WIB dan pertandingan selesai pukul 22.00 WIB," ujar Dedi Prasetyo kepada wartawan, Kamis (20/10/2022).

Baca juga: Stadion Kanjuruhan Malang Bakal Dirobohkan dan Dibangun Lagi sesuai Standar FIFA

Baca juga: Rekonstruksi Tragedi Kanjuruhan Dilakukan di Mapolda Jatim, Penyidik Fokus pada Tiga Tersangka

Ia mengatakan, inti rekonstruksi juga melakukan reka adegan saat suporter masuk ke lapangan.

Lalu  terjadi kericuhan dan berujung ditembakkan gas air mata oleh petugas.

Kendati demikian, dalam proses rekonstruksi itu, penembakkan gas air mata hanya dilakukan secara simbolik.

Hal itu sebatas kebutuhan proses rekonstruksi tersebut.

"Selanjutnya, suporter ada yang masuk lapangan dan terjadi kericuhan sehingga terjadi penembakan gas air mata yang dilakukan oleh anggota Samapta Polres Malang," kata Dedi.

"Lalu, anggota Brimob Kompi Porong dan anggota Brimob Kompi Madiun di dalam areal stadion," katanya.

Dalam rekonstruksi tersebut, polisi menghadirkan 54 orang yang berperan sesuai konstruksi hukum peristiwa Kanjuruhan.

Mereka terdiri atas tiga tersangka, 10 suporter, dan satu steward.

"Kemudian keeper 1, Padal 10, Anggota Brimob Porong 10, Anggota Brimob Madiun 17, Anggota Samapta Polres Malang 2," ujar Dedi Prasetyo.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved