Serangan ke Mantan Ketua KY

Sosok Eks Ketua KY yang Jadi Korban Pembacokan, Pakar Hukum dan Peduli Kesejahteraan Dosen

Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY), Jaja Ahmad Jayus, menjadi korban pembacokan di rumahnya, Selasa (28/3/2023). Inilah profil Jaja Ahmad Jayus.

|
Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
Tribunnews.com/Gita Irawan
Jaja Ahmad Jayus, Ketua Komisi Yudisial periode 2010-2015 dan tahun 2015-2020. Jaja Ahmad Jayus dibacok orang di rumahnya di Bandung, Jabar, Selasa (28/3/2023) sore. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY), Jaja Ahmad Jayus, menjadi korban pembacokan di rumahnya di Bojongsoang, Kota Bandung, Jabar, Selasa (28/3/2023) sore.

Jaja Ahmad Jayus mengalami luka bacokan di tengkuk.

Hingga Selasa malam, polisi masih menyelidiki kasus penganiayaan terhadap Jaja. Polisi belum menjelaskan dugaan motif penyerangan tersebut.

Jaja sangat berpengalaman di Komisi Yudisial. Dia berada di lembaga pengawas para hakim tersebut selama dua periode yakni 2010-2015 dan 2015-2020.

Menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, Jaja kemudian menjadi dosen di almamaternya.

Lompatan berikutnya, Jaja menjadi Dekan Fakultas Hukum Unpas periode 2009-2011.

Pada periode tersebut, Jaja juga mulai masuk Komisi Yudisial.

Jaja Ahmad Jayus peduli terhadap kesejahteraan dosen. Saat menjabat sebagai Ketua Komisi Yudisial, dia mendorong Persaudaraan Dosen Republik Indonesia (PDRI) agar memperjuangkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas dosen.

"PDRI harus ikhtiar dan berjuang agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud," ujar Jaja Ahmad Jayus dikutip dari Tribun Jabar, Juli 2018.

Jaja Ahmad Jayus prihatin terhadap dosen perguruan tinggi swasta yang belum berkembang.

Menurutnya, PTS mesti didorong agar maju dan mampu mensejahterakan dosennya dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Jaja pun membandingkan idealisme dan realita perguruan tinggi swasta. "Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan nonprofit, pemiliknya tidak meminta uang kembali. Namun sekarang kan lembaga seperti ini juga ada hitungan BEP (break event point/titik impas)," ujar Jaja.

"Kenyataannya, kini banyak PTS di daerah yang untuk membayar gaji dosen saja masih kembang kempis," ujar Jaja.

Dikutip dari situs resmi KY, Jaja memulai kariernya sebagai akademisi.

Sebelum terpilih menjadi Anggota Komisi Yudisial (KY) periode 2010-2015 dan 2015-2020, pria kelahiran Kuningan, 6 April 1965, ini berkarier sebagai dosen sejak tahun 1990.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved