Rabu, 6 Mei 2026

Masyarakat Diminta Waspada Mycoplasma Pneumonia dari China, Gejalanya Mirip ISPA

Masyarakat diminta mewaspadai penyakit mycoplasma pneumonia yang tengah merebak di China dan menyerang anak.

Tayang:
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Ign Prayoga
Avent
Ilustrasi virus 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Masyarakat diminta mewaspadai penyakit mycoplasma pneumonia yang tengah merebak di China.

Saat ini, kasus tersebut meningkat dan menyerang anak-anak negeri Tirai Bambu.

Imbauan agar masyarakat mewaspadai mycoplasma pneumonia ini dipaparkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

“Sesuai dengan rilis Kementerian Kesehatan, memang ada peningkatan kasus di China terkait kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati di Jakarta, Selasa (5/12/2023).

Ani mengatakan, masyarakat patut waspada dengan penyakit yang terjadi di luar.

Masyarakat dapat melakukan pencegahan dengan memakai masker saat berada di luar ruangan.

"Pada dasarnya kita hanya perlu waspada, yang paling penting adalah apabila ada gejala-gejala ISPA atau menyerupai ISPA maka segera saja akses layanan kesehatan,” katanya.

Ani mengatakan, saat ini Dinkes masih mendalami dugaan kasus mycoplasma pneumonia yang terjadi di Jakarta.

Sejauh ini, Dinkes memang tengah menangani pasien dengan keluhan ISPA.

"Di Jakarta kami secara spesifik menghitung yang mycoplasma ya tetapi kasus ISPA memang selalu dihitung sebagai sistem kewaspadaan. Sama seperti waktu polusi kan, kasus ISPA juga terus kami sampaikan,” ujarnya.

Gejala Mycoplasma Pneumonia

Pemerintah telah menerima laporan kasus mycoplasma pneumoniae masuk ke Indonesia. Bakteri penyebab pneumonia tersebut dilaporkan mewabah di China.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan, laporan itu diterima melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Saat ini, pemerintah tengah memverifikasi jumlah kasusnya.

"Sudah ada laporan, tapi baru lisan dari DKI Jakarta. Dan hari ini akan diverifikasi oleh Dinkes DKI Jakarta sekaligus melakukan pemeriksaan epidemiologi," kata Nadia kepada Kompas.com, Selasa.

Nadia menuturkan, pemerintah juga akan mendata gejala yang dialami pasien.

Biasanya kata Nadia, gejala yang dialami pasien terinfeksi pneumonia adalah sesak napas, disertai demam dan flu.

"Kan ini infeksi saluran napas, dan gejala utama pneumonia adalah sesak. (Tapi kalau gejala apa saja yang dialami pasien di sini), Belum ada yang dilaporkan. Kita tunggu," tuturnya.

Kendati begitu Nadia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir.

Sebab, penyebab pneumonia bukan bakteri atau virus baru seperti Covid-19 maupun ebola. Karena bukan bakteri dan virus baru, cara mendeteksi dan obat penangkalnya sudah ada.

Pun sudah ada petunjuk dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk memperketat surveilance agar lonjakan kasus pneumonia tidak terjadi.

"Pneumonia mycoplasma bukan penyakit baru seperti Covid-19. Penyakit ini (sebelumnya) sudah ada. Dan sudah ada obatnya," tutur Nadia.

Terpisah, Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ngabila Salama mengungkapkan ada peningkatan kasus pneumonia di Indonesia.

Tren kenaikan pneumonia pada anak di Jakarta disebabkan oleh virus, terbanyak Respiratory Syncytial Virus/RSV, influenzae, Covid-19, adenovirus, rinovirus, dan parainfluenzae.

Musim hujan turut berpengaruh pada kenaikan kasus.

"Imunitas manusia cenderung menurun dan faktor kelembaban membuat kuman seperti virus, bakteri, jamur, dan lain-lain masuk ke tubuh manusia," ucap Ngabila.

Ngabila mengimbau masyarakat untuk mencegah dengan dua cara, yaitu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta melakukan imunisasi rutin lengkap pada anak.

Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dilakukan dengan memakai masker di keramaian, terutama pada anak yang sakit atau sebaiknya tidak keluar rumah.

Lalu, rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menjaga ventilasi udara, dan menghindari asap rokok.

Untuk imunisasi, Ngabila menyebut ada 15 imunisasi gratis dari pemerintah, dengan sasaran usia anak sampai dewasa.

"Akses vaksin dosis 1-4 untuk Covid-19 usia 18 tahun ke atas gratis di puskesmas dan RSUD terdekat. Dianjurkan (melakukan) vaksin influenza berbayar mandiri untuk usia 6 bulan ke atas terutama kelompok rentan yaitu balita, lansia, ibu menyusui, ibu hamil, dan tenaga kesehatan," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kenaikan kasus pneumonia yang menyerang anak-anak di China Utara.

Pasien menunjukkan gejala pneumonia seperti demam, kelelahan, dan batuk. Hingga saat ini belum ada kasus kematian yang dilaporkan.

Berdasarkan Komisi Kesehatan Nasional China, kenaikan kasus disebabkan oleh beberapa patogen saluran pernapasan seperti bakteri Mycoplasma pneumonia, virus influenza, dan infeksi respiratory syncytial virus (RSV) serta adenovirus.

Sejauh ini belum ditemukan patogen baru yang bisa menyebabkan pneumonia pada anak.

Adapun sebagai bentuk kesiapsiagaan Pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi penularan pneumonia, Kemenkes RI mengeluarkan surat edaran tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma pneumonia di Indonesia.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan, penerbitan surat edaran bertujuan mengantisipasi penyebaran pneumonia di Indonesia.

Melalui surat edaran tersebut, Kemenkes meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk melakukan pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global serta meningkatkan kewaspadaan dini dengan melakukan pemantauan kasus yang dicurigai pneumonia.

Ia juga meminta KKP untuk meningkatkan pengawasan terhadap orang (awak, personel, dan penumpang), alat angkut, barang bawaan, lingkungan, vektor, binatang pembawa penyakit di pelabuhan, bandar udara dan pos lintas batas negara, terutama yang berasal dari negara terjangkit.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved