Kisah dr Hilwani Jalan Kaki 11 Kilometer di Lembata untuk Menemui Pasien yang Sakit
Kabag Hukum dan Informasi RSUD Kab Tangerang, dr Hilwani punya pengalaman tak terlupakan saat bertugas di Lembata, NTT.
Laporan Kontributor TribunTangerang, Joseph Wesly
TRIBUNTANGERANG, TANGERANG - Kepala Bagian Hukum Publikasi dan Informasi, RSU Kabupaten Tangerang, dr Hilwani menceritakan 18 tahun perjalanan hidupnya sebagai seorang dokter.
Pria kelahiran tahun 1979 ini membagikan suka dan duka yang dia alami sebagai seorang dokter.
Lahir dari keluarga ulama di Kosambi, Kabupaten Tangerang, dr Hilwani mengaku pernah merasa dilema menjadi seorang dokter.
Pasalnya, saat bertugas di sebuah kecamatan yang terkenal dengan perburuan pausnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi infrastrukturnya sangat memprihatinkan.
Selain listrik yang cuma hidup di malam hari, jalan rusak, kontur desa yang menanjak, sinyal yang sulit serta bekerja sendirian dengan wilayah kerja satu kecamatan membuat dr Hilwani merasa 'sendirian'.
"Sebagai dokter kita bekerja memberikan pelayanan kesehatan kepada warga dengan tapi di sisi lain seperti tidak ada dukungan dari pemerintah," ujarnya saat berbincang Senin (8/4/2024).
Minimnya infrastruktur membuatnya pernah harus berjalan kaki ke sebuah desa sejauh 11 kilometer untuk menemui pasien.
"Jalannya bahkan tidak bisa dilalui menggunakan sepeda motor karena memang tidak ada jalan," katanya.
Jantung dr Hilwani juga kerap dipacu lebih kencang saat melewati jalanan di Pulau Lembata yang memiliki jalan sempit dan diapit jurang yang sangat dalam.
"Jalannya sempit dan rusak. Kanan kiri jurang, serem deh," kata dia.
Lanjut pria bergelar magister hukum ini, dirinya pernah memiliki pengalaman mengoperasi ibu yang sedang melahirkan dengan peralatan seadanya.
Dia terpaksa menangani operasi kelahiran tersebut karena sang bayi terlilit plasenta sehingga harus segera mendapatkan pertolongan.
"Kalau dibawa ke kota membutuhkan waktu yang lama sehingga saya harus melakukan operasi dengan alat seadanya," katanya.
Pria yang pernah mencoba sekolah pilot ini menilai, infrastruktur di Kecamatan Lembata tidak maksimal. "Kadang perbaikan jalan tidak disertai dengan pemeliharaan," katanya.
Namun, di balik minimnya infrastruktur di Lembata, kecantikan pantainya menjadi salah satu daya tarik yang sulit dilupakan.
"Pantai menjadi lokasi favorit untuk bersantai melepas penat," katanya.
Setelah mengabdi di Nusa Tenggara Timur selama 3 tahun, dr Hilwani memutuskan kembali ke kampung halaman di Tangerang dan mengabdi di RSU Kabupaten Tangerang sejak 2014.
| Mahasiswa UMJ Bawa Sampah ke Kantor Wali Kota Tangsel, Sempat Memanas dengan Satpol PP |
|
|---|
| Buang Sampah Sembarangan di Tangsel Bisa Kena Sanksi Tipiring |
|
|---|
| Sempat Viral Disebut Gagal, Ladang Jagung di Tigaraksa Tangerang Akhirnya Dipanen |
|
|---|
| Pemkot Tangsel Tambah Armada Truk Sampah dari 27 Jadi 40 Unit |
|
|---|
| PSEL di TPA Jatiwaringin Siap Beroperasi, Bupati Tangerang: Progresnya Capai 95 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Dokter-Hilwani.jpg)