Pilkada Jakarta
Pengamat Politik Sebut Etik Berpolitik Anies Dianggap Tengil dan Kepedean, Wajar Disindir Megawati
Pengamat Politik Citra Institut Efriza mengatakan, jika dilihat beberapa bulan terakhir, Anies tidak memiliki etika dalam berpolitik.
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Joko Supriyanto
TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Anies Baswedan ditinggalkan oleh sejumlah partai politik dan tak bisa ikut mendaftarkan diri ke KPUD DKI untuk bertarung di Pilgub Jakarta 2024-2029.
Pengamat Politik Citra Institut Efriza mengatakan, jika dilihat beberapa bulan terakhir, Anies tidak memiliki etika dalam berpolitik.
Misalnya, kata Efriza, PDIP sempat ingin menduetkan Anies dengan kadernya. Tapi Anies justru tidak peduli dan tak melanjutkan lobi-lobi politik dengan Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri.
"Maka wajar, jika Ketua Umum PDIP Megawati menyidir, 'sekarang mendekat, kemarin sore ke mana saja, pakai maksa pula, aku kaget yo yo, suruh gotong pak Anies. Enak aja, ngapain yo suruh dukung Pak Anies. Mau didukung jangan gitu yo'," kata Efriza meniru ucapan Megawati, Kamis (29/8/2024).
Dari ucapan Megawati tersebut, kata Efriza sudah menandakan cara pendekatan dan pola lobi-lobi Anies Baswedan tidak disukai dan tak beretika.
Efriza menerangkan, harusnya Anies membuka komunikasi, saling negosiasi dan samakan pandangan.
"Ini menunjukkan kelas Anies sebagai politisi untuk banyak hal masih kurang baik, seperti cara berkomunikasi, menunjukkan etika berpolitik, untuk menyamakan pandangan, saling menegosiasikan kepentingan, Anies masih jauh dari kata handal," tegasnya.
Sebelumnya, Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kehilangan arah untuk maju di Pulgub DKI 2024-2029 karena tidak ada dukungan dari Partai Politik.
Beberapa hari terakhir, isu Anies bakal diusung oleh PDIP ternyata hanya prank saja. Sebab, PDIP mengusung Pramono Anung-Rano Karno di Pilkada Jakarta.
Menyoroti ini, Pengamat Politik Citra Institut, Efriza mengatakan, kegagalan Anies maju di Pilkada DKI bukan karena partai politik.
Ia meminta agar Anies intropeksi diri dan bercermin kepada kenyataan agar ke depan bisa lebih baik lagi.
"Menggunakan bahasa sarkas, ia tengil, dan kepedean. Ini politik loh, sebagai politisi ia harus gercep, dan harus bisa mengayuh kepentingan, bahasa sarkasnya bukan seperti sekarang suka-suka gue," kata Efriza, Rabu (28/8/2024). (m26)
| Menang di Pilkada Jakarta, Pramono: Terima Kasih RK-Suswono dan Dharma-Kun Bikin Pilkada Damai |
|
|---|
| Sudah Berusaha Pikat Warga Jakarta tetapi Tidak Dipilih, Ridwan Kamil Lapang Dada Terima Kekalahan |
|
|---|
| Blak-blakan, Ridwan Kamil Akhirnya Beberkan Alasan Batal Gugat Hasil Pilkada Jakarta ke MK |
|
|---|
| Ridwan Kamil Akhirnya Legowo Soal Hasil Pilkada Jakarta, Kini Ucapkan Selamat untuk Pramono-Rano |
|
|---|
| KPU Tetapkan Pram-Rano Jadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta 3 Hari setelah Terima BRPK dari MK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Anies-Baswedan6.jpg)