Selasa, 5 Mei 2026

Sudah Dilihat 3 Juta Kali, Menu Makan Bergizi Gratis Dikritik, Tak Ada Sayur dan Susu Tinggi Gula

Dia membagikan menu Makanan Bergizi Gratis tersebut dianggap tidak menggambarkan menu yang bergizi.

Tayang:
Editor: Joseph Wesly
Kolase Tribun Tangerang/istimewa
Makan bergizi gratis yang dianggap kurang bergizi karena tidak ada sayur, potrongan buah yang kecil dan susu yang tinggi gula. 

TRIBUN TANGERANG.COM, JAKARTA- Beredar menu Makan Bergizi Gratis yang ramai-ramai dikritik netizen.

Menu tersebut diunggah oleh pengguna akun X (Twitter) @bai****i pada Selasa (7/1/2025).

Dia membagikan menu Makanan Bergizi Gratis tersebut dianggap tidak menggambarkan menu yang bergizi.

Berdasrka foto yang diunggah, terlihat menu MBG di beberapa daerah dianggap kurang sumber protein.

Kemudian tidak ada sayur, minim buah, dan menggunakan susu kemasan yang tinggi gula.

Ungahannya viral dan sudah dilihat sebanyak 3 juta kali. Unggahannya itu juga dikomentari lebih dari seribu orang.

Beragam komentar pun memenuhi unggaan tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan definisi Makan Bergizi gratis.

"Kurang banget. Fokus makanan bergizi itu ada di protein dan vitamin. Ini kyknya daging ama tepungnya banyakan tepungnya, digoreng pula. Sayurnya tidak ada, buah secuil," tulis salah satu akun.

"Sayurnya mana ya? Susu kemasan gitu bukannya banyak gulanya ya? Masak tiap hari anak dikasih susu kemasan gitu? Batuk yg ada," kata pengguna lainnya.

Lantas, apakah menu tersebut sudah sesuai dengan standar gizi?

BGN: menu makan bergizi gratis disusun ahli gizi

Menanggapi keluhan warganet, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut menu makan makanan pada program MBG pada dasarnya telah ditetapkan sesuai dengan standar komposisi gizi dari para ahli.

"BGN telah menetapkan standar komposisi gizi. Menu itu disusun oleh ahli gizi di masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menu juga disusun untuk satu bulan," ujarnya saat dimintai tanggapan Kompas.com pada Rabu (8/1/2025).

Dadan pun memastikan, keluhan dari masyarakat akan menjadi bahan masukan, terutama untuk SPPG agar di kesempatan selanjutnya dapat menyiapkan menu dengan komposisi yang lengkap.

Dia menambahkan, evaluasi pelaksanaan program makan bergizi gratus selalu diadakan setiap hari.

Sementara itu, saat ditanya mengenai apakah ada rencana mengganti susu kemasan dengan susu segar, Dadan menjawab, hal itu hanya bisa dilakukan jika daerah tersebut adalah sentra sapi perah.

"Susu diutamakan di wilayah yang ada sapi perah. Susu pasteurise seperti di Cimahi contoh yang baik," jelasnya.

Menurutnya, agar tetap memenuhi standar gizi, daerah yang bukan produsen susu murni dapat mengutamakan susu UHT plain. 

 Ahli gizi: makanan bergizi memiliki komposisi lengkap

Saat dimintai pandangan, Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Universitas Indonesia, Inge Permadhi, menyebut makanan bisa disebut bergizi jika memiliki komponen lengkap dengan komposisi zat gizi seimbang sesuai kebutuhan individu, sebagaimana konsep Isi Piringku Sekali Makan.

Artinya, dalam satu piring untuk setiap kali makan, mesti dilengkapi dengan sumber karbohidrat (bisa nasi, ubi, jagung, sagu, mi, atau roti), lauk hewani dan nabati, sayur, serta buah. Jika ada yang kurang dari itu, kata Inge, komponen makanan bisa dibilang belum sempurna.

"Untuk menu makanan yang diunggah, komposisinya baru terdiri dari nasi, lauk hewani, nabati, dan buah. Masih ada kekurangan untuk ketersediaan sayur. Menu itu ebenarnya akan menjadi menu lengkap kalau ada sayurnya," kata Inge mengomentari posting foto di X yang dikirim Kompas.com.

Menurutnya, sayur tidak harus dalam bentuk yang utuh, tetapi bisa diolah atau dimasak misalnya dengan daging ayam, sehingga lebih menarik minat anak-anak untuk mengonsumsinya.

Selain komponen menu yang disajikan, makanan bergizi juga penting diperhatikan dari sisi komposisi zat gizi untuk dikonsumsi dalam sehari.

Inge menjelaskan, zat gizi seimbang dapat dicapai dengan mengonsumsi 45-65 persen karbohidrat, protein 1 gram per kilogram berat badan ideal, dan lemak kurang dari 20-25 persen.

“Pada menu makanan tersebut sudah terkandung bahan makanan sumber karbohidrat yaitu nasi, demikian juga buah dan sayur termasuk sumber karbohidrat,” ujarnya.

Tambahan protein bisa dari susu Menanggapi soal keluhan kandungan protein dalam menu makan bergizi gratis dianggap kurang, menurut Inge, daging ayam dan tahu atau tempe sebenarnya sudah termasuk sumber protein hewani dan nabati.  

Tambahan asupan protein lainnya, kata dia, bisa diperolah dari susu sebagai sumber protein hewani.

"Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah protein yang tersaji harus dapat mencukupi sepertiga bagian dari kebutuhan protein orang yang mengonsumsinya, sehingga dalam tiga kali makan, akan tercukupi seluruh kebutuhan protein orang tersebut," terangnya.

Inge tidak menampik bahwa susu kemasan, terutama yang rasanya manis biasanya mengandung gula yang tinggi.

Adapun komsumsi gula dari berbagai makanan yang diberi tambahan gula dalam sehari maksimal adalah mencapai 5 persen dari total kebutuhan kalori dalam sehari.

Kelebihan gula berisiko menyebabkan kegemukan dan berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus.

Namun, menurut Inge, kelebihan gula itu bisa dicegah dengan menghindari banyak makanan manis lainnya dalam satu hari setelah konsumsi susu kemasan.

"Kalau misalnya sepanjang hari tidak makan yang manis, misalnya, kue dan sebagainya, sebenarnya itu bisa jadi tidak berlebihan juga gulanya," tuturnya.

Saran untuk program MBG Menurut Inge, pengolahan makanan dalam program MBG harus bijak dan sebaiknya tidak selalu tersaji dalam bentuk digoreng.

Ia mengingatkan, selain sebagai sumber protein, lauk hewani dan nabati pada dasarnya merupakan sumber lemak alami yang juga dibutuhkan oleh tubuh.

Dalam hal ini, pengolahan bahan makanan tersebut dengan cara digoreng, diyakini dapat membuat kadar lemaknya bertambah karena lauk menyerap lemak dari minyak.

 "Lemak membuat makanan menjadi lebih lezat, namun terlalu banyak lemak juga menyebabkan kegemukan dan berbagai penyakit yang berhubungan dengan kegemukan," paparnya.

Selain itu, Inge juga menekankan pentingnya inovasi dalam pembuatan makanan bergizi, sehingga menunya bisa bervariasi dan tidak membosankan bagi anak-anak.

Penampilan makanan juga sebaiknya dibuat menarik, higenis, dan memperhatikan kearifan lokal.  "Sehingga menjadi makanan yang ditunggu oleh anak-anak, agar tercapai tujuan program MBG ini, untuk kesehatan anak-anak bangsa," sambungnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com 

Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini

Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved