Inspiratif, Napi di Rutan Jambe Produksi Sepatu Rutira, Orderan Datang dari Aceh hingga Sulawesi

Ide dan kreatifitas para narapidana itu dituangkan untuk menciptakan sepatu sneakers bermerk Rutira yang merupakan singkatan

Penulis: Nurmahadi | Editor: Joseph Wesly
Tribuntangerang.com/Nurmahadi
PENJUALAN SAMPAI SULAWESI- Kepala Rumah Tahanan Kelas I Tangerang, Irhamuddin dan sepatu hasil produksi di Bengkel Bimbingan Kegiatan (Bimgiat) Rutan Kelas I Tangerang, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (25/11/2025). (Tribuntangerang.com/Nurmahadi) 

Ringkasan Berita:
  • Para napi di Rutan Kelas I Tangerang memproduksi sepatu sneakers “Rutira” secara manual lewat bengkel Bimgiat, menghasilkan 10–20 pasang per hari.
  • Pesanan datang hingga Aceh, Sumatera, dan Sulawesi. Warga binaan mendapat premi 10 persen dari penjualan yang langsung ditabung sebagai modal setelah bebas.
  • Selain sneakers, rutan kini kembangkan sepatu batik khas Tangerang. Pihak rutan berharap dukungan pemerintah untuk alat yang lebih baik agar bisa melibatkan lebih banyak warga binaan.

 

Laporan Reporter Tribuntangerang.com, Nurmahadi

TRIBUNTANGERANG.COM, JAMBE- Kreatifitas warga binaan di rumah tahanan (rutan) Kelas I Tangerang, tak luntur meski hidup di balik jeruji besi.

Ide dan kreatifitas para narapidana itu dituangkan untuk menciptakan sepatu sneakers bermerk Rutira yang merupakan singkatan dari Rumah Tahanan Tigaraksa (Rutira).

Saat dikunjungi Tribuntangerang.com, Selasa (25/11/2025) siang, 10 warga binaan yang tampak sibuk memproduksi sepatu di Bengkel Bimbingan Kegiatan (Bimgiat) Rutan Kelas I Tangerang, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Banten.

Tangan mereka cukup terampil. Ada yang bertugas memotong kain mesh sebagai bahan dasar, ada yang menjahit, ada pula yang bertugas mengelem outsole sepatu.

Sesekali mereka tampak saling melontarkan guyonan untuk sekadar melepas penat.

"Menjalani hukuman terasa lebih ringan karena ada kegiatan, menambah ilmu juga," ucap Muhamad Fachrudin (36), seorang warga binaan yang bekerja di Bimgiat tersebut.

Fachrudin mengatakan mulai bergabung di bengkel Bimgiat itu sejak Mei 2025.

Untuk bisa bergabung, dia harus menjalani beragam pelatihan dan bimbingan.

"Awalnya kan dari Bimgiat ini ada perekrutan. Terus kebetulan saya mendaftar, terus diterima," ungkapnya.

Dia berharap ilmu yang didapatkan dalam memproduksi sepatu ini bisa menjadi bekal setelah ia bebas nantinya.

Pria asal Panongan, Kabupaten Tangerang itu berkeinginan bisa membuat usaha sepatu lokal.

"Selain biar ada kegiatan, biar saya ke luar dari rutan ini punya ilmu, punya bekal buat di luar. Harapannya bisa dikembangin apa yang saya lakukan di sini. Ilmu dari sini bisa saya terapkan di luar," paparnya.

Di samping itu, Kepala Rutan Kelas I Tangerang, Irhamuddin menjelaskan produksi sepatu ini bermula dari ide warga binaan pada 2016 lalu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved