25 Tahun Jualan Laksa Kota Tangerang, Subadri Raup Pendapatan Rp 700.000 per Hari
Pesatnya kemajuan zaman di era digitalisasi tidak membuat kuliner legendaris asal Kota Tangerang, laksa, ikut tergerus gaya hidup masyarakat.
Penulis: Gilbert Sem Sandro | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan,
TRIBUNTANGERANG.COM, Gilbert Sem Sandro
TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Pesatnya kemajuan zaman di era digitalisasi tidak membuat kuliner legendaris asal Kota Tangerang, laksa, ikut tergerus gaya hidup masyarakat.
Makanan tradisional yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) itu masih menjadi primadona bahkan menjadi mata pencaharian sebagian orang.
Seperti halnya Subadri yang telah berjualan laksa selama 25 tahun di Jalan Mochammad Yamin, Kelurahan Babakan, Kota Tangerang, Provinsi Banten.
"Saya sudah berjualan laksa sejak tahun 2000 silam, Alhamdulillah masih awet berdiri sampai sekarang," kata dia saat diwawancarai TribunTangerang.com, Sabtu (13/12/2025).
Laksa merupakan olahan makanan berbentuk mi yang terbuat dari tepung beras, disiram dengan kuah yang memiliki racikan bumbu alami khusus dibauri daun bawang, bawang goreng serta tambahan telur dan ayam.
Satu porsi Laksa Berkah Mang Badri dijual seharga Rp10 ribu untuk pilihan normal. Apabila ingin ditambah telur harganya Rp15.000 per porsi, sementara untuk satu paket komplit laksa dengan telur dan ayam kampung dibanderol Rp 25.000 per porsi.
Dalam satu hari mulai Senin hingga Jumat, Subadri mampu menjual sebanyak 70 porsi laksa. Namun saat akhir pekan tiba, 100 sampai 120 porsi laksa racikannya ludes dinikmati masyarakat.
Pasalnya saat akhir pekan tiba, banyak masyarakat yang memilih laksa sebagai menu sarapan favorit ketika selesai berolahraga bersama keluarga.
Selain cita rasa, laksa yang disajikan juga mengutamakan kebersihan dan kesehatan, Badri selalu membungkus tangannya dengan plastik ketika menyajikan laksa untuk setiap pelanggan yang datang.
"Alhamdulillah pendapatan berjualan laksa cukup untuk menghidupi keluarga, kalau dihitung-hitung minimal Rp 700.000 masih bisa dapat dalam sehari," ungkapnya.
"Saya berjualan mulai dari jam 6 pagi sampai pukul 18.00 WIB kalau masih ada, tapi biasanya siang hari sudah tutup karena habis dagangannya," sambungnya.
Saat ini laksa Tangerang memiliki dua jenis kriteria yang kian memperkaya cita rasa dan kandungan nilai budayanya yaitu Laksa Nyai dan Laksa Nyonya.
Laksa pertama disebut dibuat oleh kaum pribumi Tangerang yang kental dengan penggunaan bumbu-bumbu dan rempah-rempah lokal yang khas.
Sedangkan Laksa Nyonya dibuat oleh kaum peranakan Tionghoa menggabungkan cita rasa pedas dan gurih kuah seperti kuliner peranakan pada umumnya.
| Dorong Generasi Muda Miliki Hunian, Paramount Land Hadirkan Promo Bebas PPN di Tahun 2026 |
|
|---|
| Ditutup Terpal dan Dipagar, Sampah di Sekitar Pasar Cimanggis Tangsel Kembali Menumpuk |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Tangsel, Tangerang dan Kota Tangerang Jumat 16 Januari 2026: Sebagian Hujan, Berawan |
|
|---|
| 10 Elemen Ikonik Warnai Logo HUT ke-33 Kota Tangerang, Ini Filosofinya |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Banten Jumat 16 Januari 2026: Sebagian Wilayah Hujan Ringan dan Berawan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/KULINER-LAKSA-769.jpg)