Kasus Superflu
Nihil Kasus Superflu, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Ungkap Cara Antisipasinya
Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memastikan belum menemukan kasus virus superflu melanda masyarakat di wilayahnya.
Penulis: Gilbert Sem Sandro | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan,
TRIBUNTANGERANG.COM, Gilbert Sem Sandro
TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memastikan belum menemukan kasus virus superflu melanda masyarakat di wilayahnya.
Plh Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Amir Ali mengatakan, hingga saat ini wilayah berjuluk Kota Benteng tersebut masih nihil kasus superflu serta kondisi aman dan terkendali.
"Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan utama mencegah virus masuk ke dalam tubuh mulai dari mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan istirahat yang cukup," ujar Amir kepada awak media, Rabu (14/1/2026).
Kemudian ia menjelaskan, superflu merupakan penyakit dengan gejala yang menyerupai flu biasa, namun dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Gejala awal apabila seseorang terserang superflu ialah demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, menggigil, sakit kepala berat, nyeri otot dan sendi, serta tubuh terasa sangat lemas.
Sementara jika penyakut flu biasa melanda umumnya hanya ditandai batuk, pilek dan demam ringan sehingga penderita masih dapat beraktivitas.
Menyikapi hal tersebut masyarakat pun diimbau tenang serta tidak panik terhadap informasi yang beredar, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kesehatan.
"Berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi dan vitamin, hingga menjaga kesehatan mental dengan tetap berpikir positif dan bahagia sangat membantu terhindar dari penyakit," ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Tangerang memastikan seluruh fasilitas layanan kesehatan, termasuk 39 puskesmas dan rumah sakit selalu dalam kondisi siaga menghadapi pasien.
"Seluruh fasilitas kesehatan pemerintah daerah dalam kondisi siaga untuk menangani berbagai kemungkinan penyakit, termasuk gangguan kesehatan yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan," paparnya.
Menurut dia, setiap puskesmas di Kota Tangerang juga telah disiapkan untuk memberikan pelayanan pemeriksaan, pengobatan, hingga rawat inap apabila diperlukan.
Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan dengan gejala berat diimbau untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.
"Menghadapi kasus superflu ini tidak perlu panik, masyarakat bisa datang langsung ke layanan kesehatan terdekat dengan tempat tinggal demi menghindari terserang penyakit," kata dia.
Adapun istilah super flu belakangan ramai dibicarakan publik, seiring meningkatnya laporan kasus influenza di sejumlah negara.
Terlebih ketika beredar kabar kasus superflu atau influenza tipe A (H3N2) subclade K menyebabkan meninggalnya satu pasien lansia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, belum lama ini.
Tak sedikit masyarakat yang kemudian menyamakannya dengan flu babi atau flu burung, dua penyakit yang sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran global.
Dilansir dari Tribunnews.com, dokter sekaligus ahli paru dari RS Persahabatan Prof. Erlina Burhan menyebut terdapat perbedaan mendasar pada superflu, terutama dari sisi strain virus penyebabnya.
Prof. Erlina menjelaskan, flu babi dan flu burung sama-sama termasuk penyakit influenza, meski penamaannya sering membuat publik keliru memahami sumber penularannya.
Virus influenza H1N1 yang dikenal sebagai flu babi pertama kali ditemukan di Meksiko dan sempat disebut sebagai flu Meksiko.
Sementara flu burung disebabkan oleh virus H5N1 yang berasal dari unggas seperti ayam dan burung.
Perbedaan strain inilah yang membuat karakter penularan dan dampaknya pada tubuh manusia menjadi tidak sama.
Berbeda dengan flu babi dan flu burung, istilah super flu merujuk pada virus influenza A varian H3N2 yang mengalami mutasi. Prof. Erlina menegaskan bahwa secara medis, super flu tetaplah influenza.
Mutasi di subclade K ini membuat virus menjadi sedikit lebih sulit dikenali oleh sistem imun, terutama pada kelompok rentan.
Tubuh yang biasanya mampu mengenali H3N2 standar membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons varian yang telah bermutasi. (m28)
Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini
Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News
| Pemerintah Arab Saudi Jamin Keamanan Jemaah Haji Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah |
|
|---|
| Tanah Mulai Retak di Jalan Salak Pamulang, Warga Dibayangi Longsor Susulan Setiap Hujan Turun |
|
|---|
| Pria di Sukadiri Kabupaten Tangerang Dibekuk Polisi usai Diduga Lecehkan 4 Remaja |
|
|---|
| 385 Jemaah Haji Kloter Pertama Asal Kabupaten Tangerang Resmi Terbang ke Makkah |
|
|---|
| Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Baru di Tengah Ancaman Global Warming |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/dr-Amir-Ali-566.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.