Cerita Baru Evan Dimas Usai Pensiun: Latih 75 Anak di Sanggar Saraswati Nusantara Tulungagung

Evan Dimas Darmono tengah menjadi perbincangan hangat pecinta sepakbola usai resmi memutuskan gantung sepatu.

Penulis: Gilbert Sem Sandro | Editor: Joko Supriyanto
/bhayangkarasolofc.id
Tim TribunTangerang.com berkesempatan mewawancarai Evan Dimas untuk menanyakan kesibukan saat ini setelah pensiun dari dunia sepak bola di usia yang tergolong muda yaitu 30 tahun. 

 

Laporan Wartawan,
TRIBUNTANGERANG.COM, Gilbert Sem Sandro

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Mantan gelandang Tim Nasional Indonesia Evan Dimas Darmono tengah menjadi perbincangan hangat pecinta sepakbola usai resmi memutuskan gantung sepatu.

Tim TribunTangerang.com berkesempatan mewawancarai Evan Dimas untuk menanyakan kesibukan saat ini setelah pensiun dari dunia sepak bola di usia yang tergolong muda yaitu 30 tahun.

Pemain yang memilih membela Persik Kediri sebagai klub profesional terakhirnya itu mengaku, tengah sibuk mengelola salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) di Jawa Timur dalam tiga tahun terakhir.

"Sejak masih di Arema saya sudah lebih banyak mengajar anak-anak di Sanggar Saraswati Nusantara, Desa Mojoharu, Kecamatan Gondang, Tulungagung, Jawa Timur," ujar Evan Dimas di Hotel Sultan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Selama berkutat di Sanggar Saraswati, Evan Dimas tidak hanya mengajar dasar-dasar dalam mengolah si kulit bundar namun juga turut mendidik ilmu pengetahuan dan seni kemakmuran.

Konsep baru dalam sepak bola yang menggabungkan teknik olahraga dan seni ini dinilai merupakan hal unik lantaran dapat membentuk karakter kepada anak sejak dasar diimbangi dengan pendidikan.

Sebab ia menilai untuk menjadi pemain sepak bola yang berprestasi, anak-anak tidak cukup hanya memiliki keterampilan bermain bola namun juga perlu menanamkan disiplin yang tinggi.

"Sanggar ini tidak terlepas dari tiga hal yaitu ilmu pengetahuan, seni dan kemakmuran kebijaksanaan, jadi saya lebih mendidik anak-anak daripada melatih demi menanamkan karakter sejak usia dini," ungkapnya.

"Karena sepakbola tidak hanya sekedar menendang dan menang saja, tapi harus disiplin latihan, main indah dan sportif, nah kami menanamkan itu bukan berarti yang kuliah terus bijaksana, kuliah terus lebih seni, ibarat kata kalau tumbuhan itu kita merawatnya dari benih hingga menjadi pola pikir," sambungnya.

Setiap harinya mantan Kapten Timnas Indonesia U-19 itu melatih sebanyak 75 anak di Sanggar Saraswati secara gratis.

Sebab baginya, menjadi pelatih bukan sekadar profesi belaka namun bentuk kontribusi nyata terhadap masa depan sepakbola Indonesia.

Pengalaman dan jam terbang tinggi yang dimiliki di dunia sepak bola ketika bermain untuk klub Liga Spanyol Espanyol B hingga Selangor FC ditularkan Evan demi memacu semangat anak-anak di SSB Saraswati.

"Saya rasa segala sesuatu bukan hanya tentang uang, tapi dengan menemukan teman baru, keluarga baru, lingkungan baru, menurut saya juga rezeki," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved