Sampah Ditutup Terpal di Ciputat Tangsel Dinilai Tak Efektif, Bau Sampah Kian Menyengat
Tumpukan sampah yang hanya ditutup terpal di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten dinilai tidak efektif
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joseph Wesly
Ringkasan Berita:
- Penutupan tumpukan sampah dengan terpal di Jalan Dewi Sartika, Ciputat dinilai tidak efektif karena bau menyengat tetap menyebar dan menurunkan omzet pedagang hingga lebih dari separuh.
- Pedagang mengeluhkan pengangkutan sampah yang terbatas, hanya satu truk, sehingga tumpukan masih tersisa dan mengganggu aktivitas.
- Pengamat kebijakan publik menilai penutupan sampah dengan terpal bukan solusi, berpotensi melanggar aturan, dan dapat memicu gugatan hukum.
Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT- Tumpukan sampah yang hanya ditutup terpal di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten dinilai tidak efektif.
Penutupan sampah menggunakan terpal dilakukan Pemerintah Kota Tangerang Selatan sebagai upaya mengurangi dampak bau menyengat yang dikeluhkan masyarakat.
Namun, di lapangan, langkah tersebut belum mampu mengatasi permasalahan secara optimal.
Bau menyengat justru semakin mengganggu aktivitas pedagang dan berdampak langsung pada penurunan pendapatan.
Pedagang Alami Penurunan Omzet
Ani Tio, salah satu pedagang minuman di lokasi tersebut, mengaku bau sampah sangat mengganggu sejak beberapa hari terakhir.
Menurutnya, penutupan sampah dengan terpal tidak mengurangi bau, bahkan terasa semakin menyebar.
“Bau mah bau, dampaknya ada. Biasanya jam segini bisa lebih dari 10 gelas, sekarang dari jam 2 siang sampai tiga jam baru laku 4 gelas,” ujar Ani kepada TribunTangerang.com, Ciputat, Tangsel, Selasa (16/12/2025).
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, omzet penjualan minumannya bisa mencapai 50 hingga 60 gelas dari pukul 13.00 hingga 19.00 WIB.
Namun, selama tiga hari terakhir, penjualan paling banyak hanya sekitar 15 gelas.
“Jauh banget merosot, baunya ganggu sekali,” ujar Ani sambil menghela nafas.
Penurunan omzet juga dirasakan pedagang lain di sekitar lokasi. Penjual nasi yang biasanya meraup pendapatan hingga Rp1 juta per hari, kini hanya sekitar Rp500 ribu.
Terkait upaya penanganan, Ani menyebut sampah memang sempat diangkut, namun jumlahnya sangat terbatas.
“Kemarin sempat diangkut, tapi cuma satu truk. Tidak semua diambil. Satu truk itu kan sedikit,” jelasnya.
| Respons Pemkot Tangsel Soal Demo Mahasiswa Bawa 2 Truk Sampah ke Kantor Wali Kota |
|
|---|
| Pengiriman Perdana Dimulai, Sampah Tangsel Kini Masuk TPA Cilowong Serang |
|
|---|
| Bukan Sampah Lama dari TPA Cipeucang, Ini yang Dikirim Tangsel ke Cilowong Serang |
|
|---|
| Hadapi Malam Tahun Baru, Pemkot Tangsel Siagakan Seluruh Armada Antisipasi Lonjakan Sampah |
|
|---|
| 500 Ton Sampah per Hari Dibuang ke Cilowong Serang, Pemkot Tangsel Siapkan Kompensasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Sampah13.jpg)