Inisiatif Warga Bakti Jaya, Bukti Ketahanan Lingkungan Bisa Dimulai dari RW di Tangsel

Di tengah persoalan sampah yang masih terlihat di berbagai wilayah Kota Tangerang Selatan, kondisi berbeda justru muncul di RW 09 Kelurahan

Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joseph Wesly
Tribuntangerang.com/Ikhwana Mutuah Mico
HASIL PENGELOLAAN SAMPAH- RW 09 Kelurahan Bakti Jaya, Setu, Tangerang Selatan, sejak Januari 2025 mengelola sampah secara mandiri melalui bank sampah dan pertanian warga hingga mampu mengurangi residu sampah. Pupuk yang dihasilan digunakan untuk tanaman milik RW 09 Kelurahan Bakti Jaya. 

Ringkasan Berita:
  • RW 09 Bakti Jaya mengelola sampah mandiri melalui bank sampah dan KWT sejak Januari 2025, dengan fokus pada pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan.
  • Sampah dipilah dari rumah, sampah organik diolah menjadi kompos dan sampah anorganik ditabung, sehingga residu berkurang 20–30 persen dan tidak lagi dikirim ke TPA Cipeucang.
  • Lahan bekas pembuangan sampah liar diubah menjadi taman pertanian, serta 70–80 persen warga memiliki tabungan bank sampah tanpa penambahan iuran.

 

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, SETU- Di tengah persoalan sampah yang masih terlihat di berbagai wilayah Kota Tangerang Selatan, kondisi berbeda justru muncul di RW 09 Kelurahan Bakti Jaya, Setu. 

Di kawasan ini, sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan dikelola sebagai bagian dari siklus lingkungan yang memberi manfaat.

Ketua RW 09 Bakti Jaya, Maulana Putra, menjelaskan pengelolaan sampah mandiri yang dilakukan warganya bukanlah respons atas krisis sampah yang belakangan terjadi. 

Program tersebut sudah lebih dulu dirancang sejak awal dirinya menjabat sebagai ketua RW.

"Program ini sudah kami mulai sejak Januari 2025, tidak ada kaitannya dengan kondisi darurat sekarang. Sejak awal memang kami fokus pada pengelolaan sampah dan ketahanan pangan,” ujar Maulana kepada TribunTangerang.com, Setu, Tangsel, Jumat (19/12/2025).

Bentuk Bank Sampah dan Kelompok Wanita Tani

Ia menyebut, dua program utama yang dijalankan adalah bank sampah dan kelompok wanita tani (KWT). Menurutnya, kedua program tersebut saling terhubung karena memanfaatkan hasil pemilahan sampah rumah tangga.

Melalui bank sampah, warga diminta memilah sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik seperti plastik dan minyak jelantah dikumpulkan secara berkala, sementara sampah organik berupa sisa makanan diolah kembali menjadi pupuk.

"Warga kami edukasi untuk memilah sampah. Sisa makanan itu kami olah, dan prosesnya sampai jadi pupuk kurang lebih memakan waktu satu bulan,” kata Maulana.

Selain sisa dapur, daun-daun kering dari pepohonan di lingkungan warga juga dikumpulkan. Bahan tersebut digunakan sebagai kompos dan langsung dimasukkan ke pot tanaman yang dibuat dari galon bekas.

“Kalau ada warga yang punya pohon, daun keringnya bisa dikirim ke sini untuk dijadikan kompos,” ucapnya.

Sementara itu, sampah plastik yang terkumpul ditimbang dan dicatat sebagai tabungan warga. Sebagian plastik juga dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan pertanian, seperti pot tanaman dan perlengkapan kebun.

“Dari program ini, residu sampah yang biasanya 100 persen dibuang, sekarang bisa kami kurangi sekitar 20 sampai 30 persen,” jelas Maulana.

Punya Lahan untuk Pengomposan

Ia menambahkan, pengelolaan sampah organik terpusat di RT 04 yang memiliki lahan khusus untuk pengomposan. Adapun kegiatan bercocok tanam dilakukan di Taman Griya Tanam 09 yang lokasinya tidak jauh dari area tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved