Kisah Inspiratif

Cara Warga Tangsel Mengolah Sampah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Berkualitas

Pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos menjadi salah satu solusi yang mulai diterapkan warga RW 12 kelurahan Cipayung, Ciputat.

Tribuntangerang.com/Ikhwana Mutuah Mico
PENGOLAHAN SAMPAH - Sampah organik rumah tangga di RW 12 Cipayung diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi jika dikelola dengan benar, (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico)   

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Sampah masih menjadi persoalan serius di Kota Tangerang Selatan. Penumpukan sampah masih ditemukan di berbagai titik, bahkan tak sedikit oknum warga yang membuang sampah sembarangan di pinggir jalan. 

Namun di tengah persoalan tersebut, sampah ternyata bukan semata-mata masalah. Jika dikelola dengan tepat, sampah justru memiliki nilai dan manfaat.

Pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos menjadi salah satu solusi yang mulai diterapkan warga RW 12 kelurahan Cipayung, Ciputat, Melalui pengelolaan sederhana di TPS 3R.

Sampah rumah tangga yang sebelumnya menumpuk kini diolah menjadi pupuk padat dan cair yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.

Lantas, bagaimana sampah tersebut diolah menjadi pupuk kompos? Berikut proses pembuatannya.

1. Pilah Sampah Organik

Sampah yang digunakan adalah sampah organik, seperti, sisa sayur matang dan mentah, kulit buah, sisa nasi, kulit telur.

“Idealnya memang dipisah antara organik mentah dan matang, tapi untuk memudahkan warga, di sini kami satukan. Tetap bisa jadi kompos yang bagus,” ujar Wawan Ridwan, Ketua RW 12 Cipayung kepada TribunTangerang.com, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Jumat (9/1/2026).

2. Masukkan ke Tong Komposter

Sampah organik yang sudah terkumpul dimasukkan ke dalam tong komposter.

Wawan Ridwan mengungkapkan tong ini berfungsi untuk menjaga proses fermentasi, enghasilkan pupuk cair (air lindi) dan mengurangi bau.

“Kalau pakai tong, kita dapat dua keuntungan sekaligus, pupuk padat dan pupuk cair,” ucap Wawan Ridwan.

3. Tambahkan Pengurai

Agar proses penguraian lebih cepat dan tidak bau, tambahkan molase.
Jika tidak ada, bisa diganti dengan gula merah yang dicairkan.

Wawan menjelaskan cara membuatnya yaitu dengan seduh gula merah dengan air panas, setelah cair, campurkan ke dalam tong berisi sampah.

“Molase ini penting supaya fermentasi cepat dan sampah tidak menimbulkan bau,” jelas Wawan.

4. Proses Fermentasi

Sampah yang sudah dicampur pengurai didiamkan dalam tong.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved