Kisah Inspiratif

Dari Bau Menyengat ke Kebun Produktif: Cara Warga Cipayung Tangsel Ubah Sampah Jadi Berkah

Sejak 2014, lanjut Wawan, pengelolaan sampah organik mulai difokuskan pada pembuatan kompos, meski dilakukan dengan sarana terbatas.

Tribuntangerang.com
PENGELOLAAN SAMPAH - Pengelolaan sampah organik menjadi kompos di RW 12 Cipayung berhasil menghilangkan tumpukan sampah sekaligus menghasilkan panen jagung, terong, dan sayuran yang mendukung kemandirian pangan warga,(TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico) 

Ringkasan Berita:
  • Tumpukan sampah setinggi tujuh meter yang selama bertahun-tahun menghantui warga RW 12 Cipayung sempat dianggap masalah tak terpecahkan.
  • Tanpa modal besar dan dengan sumber daya terbatas, pengelolaan sampah di RW 12 dijalankan secara bertahap sejak 2012.
  • Kini, sampah organik tak lagi dibuang, melainkan diolah menjadi kompos yang menyuburkan kebun warga dan menopang operasional TPS 3R.

 

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Gunungan sampah setinggi tujuh meter pernah menjadi pemandangan sehari-hari warga RW 12 Cipayung, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Bau menyengat, lalat, dan lingkungan yang tidak sehat menjadi masalah serius yang dialami warga sejak bertahun-tahun lalu. 

Namun kondisi itu berubah, berkat inisiatif dan kegigihan Ketua RW 12, Wawan Ridwan.

Wawan mengingat, persoalan sampah di wilayahnya mulai memuncak sekitar tahun 2012. Saat itu, sampah menumpuk tanpa penanganan yang jelas dan menimbulkan keresahan warga.

“Di lokasi ini dulu penumpukan sampah sampai sekitar tujuh meter tingginya, dalamnya hampir empat meter. Lalat banyak, bau, dan warga sangat terganggu,” ujar Wawan Ridwan ditemui di lokasi TPS 3R Cipayung, Minggu (11/1/2026).

Wawan Ridwan memilih bergerak bersama warga. Ia berkoordinasi dengan kelurahan, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup untuk membersihkan tumpukan sampah yang sudah menggunung.

“Kita kerahkan truk sampah, kita angkut semua, kita bersihkan. Alhamdulillah dibantu pemerintah, tapi inisiatif awalnya memang dari warga,” ujar Wawan.

Dari proses pembersihan itulah kemudian lahir Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) RW 12.

Baca juga: Pemkot Tangsel Buka Ruang Dialog Terkait Persoalan Sampah Usai Aksi Mahasiswa

Sejak 2014, lanjut Wawan, pengelolaan sampah organik mulai difokuskan pada pembuatan kompos, meski dilakukan dengan sarana terbatas.

“Dulu kompos itu prosesnya lama, bisa sampai bertahun-tahun karena belum ada inovasi. Tapi tetap kita jalankan,” tutur Wawan.

Perjalanan mengelola sampah tidak selalu mulus. Keterbatasan sumber daya manusia dan modal menjadi tantangan utama. Saat ini, hanya dua orang petugas yang secara khusus mengelola pemilahan dan pengomposan sampah.

“SDM kita sedikit, modal juga terbatas. Modal utamanya ya semangat,” ujarnya sambil tersenyum.

Edukasi warga pun dilakukan secara bertahap. Tidak semua warga langsung terbiasa memilah sampah dari rumah, namun Ridwan memilih pendekatan persuasif dan konsisten.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved