Lonjakan Harga LPG Non-Subsidi di Tangsel Tembus Rp247.500 per Tabung
Kenaikan harga gas LPG non-subsidi Pertamina ukuran 12 kilogram mulai dirasakan masyarakat di Kota Tangerang Selatan, Banten, Rabu (22/4/2026).
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Kenaikan harga gas LPG non-subsidi Pertamina ukuran 12 kilogram mulai dirasakan masyarakat di Kota Tangerang Selatan, Banten, Rabu (22/4/2026).
Berdasarkan pantauan TribunTangerang.com di salah satu minimarket, harga gas kini mencapai Rp247.500 per tabung, naik dari harga sebelumnya Rp209.000.
Kenaikan ini memicu perhatian warga yang mengandalkan gas untuk kebutuhan sehari-hari.
Andi Firmansyah, kasir minimarket di Ciputat membenarkan adanya perubahan harga tersebut.
“Iya, sekarang harganya Rp247.500, sebelumnya masih Rp209.000,” ujar Andi kepada TribunTangerang.com, Ciputat, Tangsel, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan kenaikan harga ini tidak terjadi tepat hari ini, melainkan sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
“Bukan baru hari ini, sudah dari beberapa hari yang lalu naiknya,” katanya.
Namun demikian, pihaknya mengaku belum mengetahui secara pasti apakah kenaikan harga juga terjadi di tingkat agen atau distributor lain.
"Kalau di agen-agen kurang tahu ya, soalnya kita hanya mengikuti harga dari pusat,” tambahnya.
Kenaikan harga yang cukup signifikan ini mulai dikeluhkan sebagian konsumen. Beberapa di antaranya merasa terbebani dengan lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat.
“Pasti ada yang ngeluh, karena naiknya cepat banget,” ujar Andi.
Meski begitu, keluhan tersebut tidak serta-merta menurunkan permintaan. Gas tetap menjadi kebutuhan utama rumah tangga, sehingga konsumen tetap melakukan pembelian.
“Ya paling mereka ngeluh aja, tapi tetap beli juga,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena gas elpiji merupakan kebutuhan pokok yang sulit untuk digantikan dalam aktivitas sehari-hari, terutama untuk memasak.
“Karena kebutuhan sehari-hari juga kan, mau nggak mau tetap harus beli,” lanjutnya.
Hingga saat ini, belum ada informasi terkait kemungkinan penurunan harga dalam waktu dekat.
“Kita belum tahu apakah nanti akan turun atau tidak, masih mengikuti saja,” tutupnya.
Baca juga: Harga LPG Nonsubsidi Naik se-Indonesia, Tabung Gas 12 Kg di Banten Rp228.000
Sementara itu, kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram mulai dirasakan kalangan ibu rumah tangga di kawasan Pondok Aren, Tangsel.
Meski penggunaannya tidak setiap hari membeli, lonjakan harga tetap memberi dampak tersendiri dalam pengeluaran rumah tangga.
Salah satu warga, Dwike Nuraini, mengaku kenaikan harga gas tetap terasa meskipun pemakaian gas relatif hemat.
“Kebutuhan makin banyak, walaupun lebih hemat karena pakai ukuran 12 kilogram pemakaiannya lebih lama, tetap aja berasa kalau gas habis dan harga naik,” ujar Dwike.
Ia menjelaskan, dalam kondisi tertentu, pengeluaran rumah tangga bisa terasa semakin berat ketika beberapa kebutuhan datang bersamaan
“Apalagi biasanya dibarengin sama token habis. Biasanya sih begitu,” katanya.
Meski demikian, Dwike menyebut pemakaian gas 12 kilogram di rumahnya tergolong cukup lama. Hal ini karena penggunaan gas tidak dilakukan secara berlebihan setiap hari.
“Kalau ditanya, ini kayaknya lumayan lama deh, bisa tiga bulan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, durasi pemakaian yang panjang terjadi karena aktivitas memasak tidak selalu memakan waktu lama.
“Soalnya nggak yang dipakai lama banget,” katanya.
Namun, dengan kondisi harga yang naik, Dwike mulai menerapkan beberapa siasat untuk menghemat penggunaan gas. Salah satunya dengan mengubah pola memasak sehari-hari.
“Biasanya alternatifnya beli lauk matang sih kalau udah dirasa boros pemakaian,” jelasnya.
Selain itu, ia mencoba menggabungkan beberapa proses memasak dalam satu waktu agar penggunaan gas lebih efisien.
“Kayak masak yang bisa dibarengin, misal goreng atau rebus atau kukus, itu dijadiin satu biar nggak berkali-kali pakai kompor,” ujarnya.
Terkait kenaikan harga, Dwike mengaku tidak terlalu memikirkannya setiap waktu. Namun, dampaknya tetap terasa saat harus membeli ulang gas.
“Saya pribadi nggak terlalu kepikiran, karena itu kebutuhan utama yang nggak setiap hari dibeli. Walaupun pas beli baru kerasa,” katanya.
Ia berharap ke depan ada kebijakan yang bisa meringankan beban masyarakat, terutama terkait harga energi rumah tangga.
“Harapannya ada alternatif, semisal gas yang lain jangan ikutan naik,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, sehingga kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi perhatian serius.
“Kalau bisa justru ya jangan naik, bahkan turun. Mengingat kebutuhan serba banyak, pemasukan pas-pasan tapi harga serba tinggi,” pungkasnya. (m30)
Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini
Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News
| Harga LPG Nonsubsidi Naik se-Indonesia, Tabung Gas 12 Kg di Banten Rp228.000 |
|
|---|
| Kisah Pilu Warga Teluknaga Tak Kunjung Dapatkan Gas Elpiji Sejak Pagi, Ikut Ngantre Malah Kehabisan |
|
|---|
| Tangis Adik Ceritakan Kepergian Yonih, Lansia yang Meninggal Usai Antre Gas Elpiji 3 Kg di Tangsel |
|
|---|
| Respon Istana Soal Pengecer Boleh Jual Gas Elpiji 3 Kg Jika Jadi Agen Resmi: Agar Tepat Sasaran |
|
|---|
| Modus Pencurian Tabung Gas di Tangsel, Pelaku Mengaku Vendor dan Kabur Bawa Tabung Gas 12 Kg |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/LPG-nonsubsidi.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.