Breaking News:

Maulid Nabi

Pedoman Peringatan Maulid Nabi 1443 H, Panitia Wajib Sediakan Scan PeduliLindungi

Inilah pedoman peringatan Maulid Nabi 1443 H, yang jatuh pada tanggal 19 Oktober 2021, sesuai arahan Kementerian Agama RI.

TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tentang peringatan Maulid Nabi 1443 H 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Inilah pedoman peringatan Maulid Nabi 1443 H, yang jatuh pada tanggal 19 Oktober 2021. 

Meskipun pandemi Covid-19 trennya terus menurun, namun mengingat Covid-19 belum benar-benar lenyap, maka protokol kesehatan tetap wajib dipatuhi, apalagi saat memperingati hari besar keagamaan yang menghadirkan kerumunan.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang tak diinginkan, Kementerian Agama menerbitkan pedoman penyelenggaraan peringatan hari besar keagamaan pada masa pandemi Covid-19 guna menekan risiko penularan virus corona dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.

"Pedoman kami terbitkan dalam rangka mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi SAW, Natal, dan hari besar keagamaan lainnya pada masa pandemi Covid-19," kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian yang diterima di Jakarta, Jumat (8/10/2021).

Menteri Agama mengatakan, pedoman penyelenggaraan peringatan hari besar keagamaan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 29 tahun 2021 disusun dengan memperhatikan kondisi penularan virus corona di daerah.

Baca juga: Kemenag Kota Tangsel Klaim PPKM Darurat Efektif Tekan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah

Baca juga: Relasi Budaya dan Agama dalam Tradisi Keagamaan dan Manuskrip di Indonesia Bagian Barat

Menurut panduan pemerintah, daerah dengan status pandemi Level 4 dan Level 3 dianjurkan menyelenggarakan peringatan hari besar keagamaan secara virtual.

Di daerah Level 3 dan 4, peringatan hari besar keagamaan secara tatap muka hanya boleh dilaksanakan di ruang terbuka dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kegiatan hanya boleh diikuti oleh warga dari daerah setempat dan jumlahnya maksimal 50 persen dari total kapasitas ruangan. 

Dalam hal ini, penyelenggara acara wajib menyediakan petugas untuk mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan, memeriksa suhu tubuh peserta, mengatur jarak, serta menyediakan masker cadangan dan berbagai peralatan pendukung penerapan protokol kesehatan. 

Di daerah dengan status pandemi Level 2 dan Level 1, peringatan hari besar keagamaan boleh dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Baca juga: Balitbang Kemenag Teliti Peran Tokoh Agama dan Ormas Keagamaan dalam Penanganan Covid-19

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved