Breaking News:

Kesehatan

Anemia Harus Segera Ditangani, dapat Sebabkan Kematian pada Pasien Cuci Darah

Anemia menjadi problematika bagi pasien cuci darah. Bila diabaikan,  akan memicu pasien menderita penyakit kardiovaskuler yang berujung kematian 

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
pexels/andrea-piacquadio
Anemia pada pasien gagal ginjal harus diobati karena kematian pada pasien hemodialisa di Indonesia hampir sebagian besar disebabkan penyakit kardiovaskuler (42persen). 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG – Anemia menjadi problematika bagi pasien cuci darah. Bila diabaikan,  akan memicu pasien menderita penyakit kardiovaskuler. 

Dan kematian  akibat kardiovaskuler pada pasien cuci darah (hemodialisa) tinggi.

Anemia adalah kondisi ketika tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke organ-organ. 

Prof. dr. Rully MA Roesli, PhD, SpPD-KGH mengatakan anemia pada pasien gagal ginjal harus
diobati karena kematian pada pasien hemodialisa di Indonesia hampir sebagian besar disebabkan
penyakit kardiovaskuler (42 persen).

Baca juga: Kata Ahli ini Tanda Depresi dan Skizofrenia, Novi Amelia diduga Menderita Penyakit Mental Tersebut

Apabila pasien hemodialisa terkena penyakit kardiovaskuler maka ginjal menjadi lemah, jantung menjadi lemah.

Oleh sebab itu, anemianya harus diobati.

Demikian dikatakan Prof Rully saat edukasi kesehatan daring bertema Manajemen Anemia: Mengurangi Tingkat Transfusi Darah, belum lama ini. Webinar ini diselenggarakan oleh PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) bersama Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Ia mengatakan, salah satu mencegah anemia  dengan memberikan terapi epo dengan indikasi Hb < 10>

Baca juga: Penyakit Penyerta Diabetes Melitus Jadi Penyumbang Terbesar Kasus Kematian Covid-19 di Kota Tangsel

Penyutikan epo harus dilakukan secara rutin. Masalahnya di Indonesia pemberian eritropetin
belum tercakup dalam pembiayaan hemodialisa sehingga pemberian transfusi darah masih
cukup banyak dilakukan.

Padahal dapat dikatakan transfusi darah memiliki banyak risiko apabila dilakukan kepada pasien cuci darah.

Sedangkan terapi epo lebih aman untuk diberikan karena dapat menghasilkan peningkatan Hb yang berkesinambungan, menghasilkan sel darah merah yang berfungsi secara normal dan dapat meningkatkan kualitas hidup dengan memelihara target Hb yang lebih tinggi.

Nathan Tirtana, Direktur Utama PT Etana Biotechnologies Indonesia mengatakan Etana
sebagai salah satu perusahaan kesehatan di Indonesia secara rutin mendukung kegiatan Hari
Ginjal Sedunia setiap tahunnya, hal ini sebagai wujud kepedulian kami terhadap pasien dengan
penyakit ginjal, khususnya pasien-pasien yang menjalani hemodialisa.

Baca juga: Berikut Cara Pemprov DKI Jakarta untuk Menghindari Berbagai Penyakit pada Saat Musim Penghujan

Tony Richard Samosir, Ketua Umum KPCDI mengatakan melalui edukasi kesehatan ini KPCDI
ingin meningkatkan pengetahuan para dialisis agar dapat memilih terapi yang tepat bagi dirinya
sendiri. (*)

 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved