Edukasi

Bayi Prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah Tingkatkan Risiko Stunting

Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita dipicu salah satunya adalah kurangnya kecukupan gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
UCLG Aspac
Ilustrasi stunting. Prevalensi stunting di Kabupaten/Kota di Provinsi Banten pada kisaran 14 persen hingga 38 persen. 

"Penting untuk melakukan skrining perkembangan pada usia 9,18, dan 30 bulan terutama pada bayi prematur," kata Prof Rina. 

Ia mengatakan, cara mencegah kelahiran prematur dan BBLR bisa dengan mempersiapkan kehamilan yang sehat dengan melakukan pemeriksaan antenatal rutin dan persiapan pra-nikah.

Nutrisi dan kesehatan ibu selama hamil penting untuk mencegah kelahiran prematur.

Baca juga: Cegah Stunting, Protein Terutama Hewani Harus ada dalam Menu Sehari-hari

Namun, jika bayi sudah terlahir prematur tenaga medis maupun fasilitas kesehatan harus dapat memberikan pertolongan awal dan selanjutnya melakukan perawatan bayi prematur secara baik.

"Pemberian ASI eksklusif juga sangat penting. Jika bayi sudah stunting maka perlu dilakukan tata laksana gizi di rumah sakit dengan pemberian PKMK (Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus) makanan khusus atau dengan pemberian nutrisi parenteral," jelasnya.

Direktur PT Fresenius Kabi Indonesia, Herlina Harjono menyatakan, melalui kegiatan edukasi ini, berharap berharap masyarakat Indonesia dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi pada bayi di 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) dan dapat melakukan pencegahan dan penanganan stunting dengan baik.

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved