Penataan Pasar

Penataan Ulang Pasar Lama Tangerang Jilid II Dilakukan, Pedagang Diberi Barcode

PT Tangerang Nusantara Global (TNG) kembali menata ulang ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang ada di Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang.

Tribun Tangerang/Gilbert Sem Sandro
Udin dan istrinya pedagang Lumpia Semarang di Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang 

Menanggapi penataan ulang itu, Udin mengaku menyambut baik rencana dari PT TNG.

Namun demikian, pelaksanaan penataan ulang Pasar Lama harus diiringi dengan ketegasan PT TNG dalam mengatur dan menjamin keamanan lapak setiap pedagang.

Sebab sebelumnya, untuk dapat memiliki lapak berjualan, para pedagang diharuskan membayar kepada orang yang tidak dikenal.

"Saya setuju kalau Pasar Lama ini ditata ulang, tapi PT TNG harus tegas dan bisa menjamin keamanan lapak kami para pedagang," kata dia.

"Jangan sampai seperti dulu, kalau kami enggak berjualan, lapak kami sudah ditempati pedagang baru dan kami harus membeli lapak lagi ke preman sini seharga Rp 5 juta sampai Rp 7 juta," imbuhnya.

Baca juga: Jadi Viral, Kisah Pedagang Pasar Cicaheum Dapat Amplop Kosong dari Presiden

Selain itu, Udin juga mengharapkan para pemungut salar (pugli) dapat hilang setelah PT TNG mulai meresmikan penataan ulang yang dilakukan.

Pasalnya, pedagang yang berjualan di Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang diwajibkan membayar salar (pungli) hingga mencapai Rp 70 ribu dalam satu malam.

Salar itu diberikan kepada 20 hingga 30 orang di setiap malam secara bergantian dengan harga Rp 2.000 untuk Senin-Jumat dan Sabtu-Minggu sebesar Rp 5.000.

Dan nantinya setelah ditata ulang, pedagang diwajibkan hanya membayar biaya retribusi sebesar Rp 250 ribu setiap pekannya kepada PT TNG.

Baca juga: Harga Telur Ayam Tembus Rp 30.000-Rp 32.000 per Kilogram di Pasar Tradisional di Jakarta

"Pada dasarnya saya setuju dengan penataan ulang PT TNG, yang penting setelah ditata, semua pungli bisa dipastikan hilang dan tidak ada lagi," ucapnya.

"Karena setipa malam, kami pedagang harus mengeluarkan Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu hanya untuk salar doang, kan sudah parah kalau terus dibiarkan," terang Udin. (m28)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved