Ekonomi
Jangan Khawatir, Ditengah Ancaman Resesi Ekonomi Global Tahun Depan, Ekonomi Indonesia Tumbuh
Ekonomi Indonesia Tumbuh Meski IMF Proyeksi Ekonomi Dunia hanya Naik 3,2 persen
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Lilis Setyaningsih
TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan meski global dibayang-bayangi resesi.
Mengacu pada data International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2022 diperkirakan hanya tumbuh sebesar 3,2 persen, dan akan melambat menjadi 2,7 persen pada 2023.
Menteri Perdagangan RI Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan, inflasi global juga diperkirakan mencapai 8,8 persen akibat kenaikan harga energi dan komoditas pangan.
Namun demikian, inflasi diperkirakan menurun dan mencapai 6,5 persen pada 2023.
“Di tengah tantangan global, kita patut bersyukur karena ekonomi Indonesia tumbuh 5,44 persen (yoy) pada kuartal II-2022. Neraca perdagangan Indonesia juga surplus selama 29 bulan berturut-turut, pada Januari-September 2022 surplus mencapai USD 39,87 miliar,” kata Zulhas.
Hal itu dikatakan Zulhas saat memberikan pidato kunci (keynote speech) Seminar Nasional bertajuk ‘Kebijakan Perdagangan, Stabilitas Harga dan Kondisi Industri Perbankan’ yang digelar Perbanas Institute, Rabu (2/11/2022).
Demi mendorong kinerja perdagangan Indonesia, kata Zulhas, diperlukan kerja sama dari seluruh pihak.
“Tanpa kolaborasi kita akan mengalami kendala. Kerja sama juga diperlukan dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju di tahun 2045,” ucap Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Zulhas mengatakan, harga kebutuhan pokok terpantau stabil di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalm negeri.
Untuk minyak goreng curah yang menjadi tugas khusus dari Presiden RI, saat ini harganya sudah di bawah harga eceran tertinggi (HET), yaitu Rp 13.800 per liter.
Baca juga: Guru Besar IPB Yakin Tangerang Initiative akan Perkuat Posisi Ekonomi Wilayah Pesisir di Asia Timur
“Selain itu, minyak kita juga sudah tersedia di 34 provinsi termasuk Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, digitalisasi perdagangan dan keuangan juga menunjukkan peningkatan pada Agustus 2022.
Bahkan, nilai transaksi uang elektronik tumbuh 43,24 persen (yoyo), volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh 184 persen (yoy), dan nilai transaksi bank digital tumbuh 31,40 persen (yoy).
Tahun 2022, ungkap dia, Kemendag fokus pada program dan kebijakan prioritas untuk penguatan pasar dalam negeri dan peningkatan ekspor nonmigas.