Tupperware di Ambang Kebangkrutan, Sempat Melejit Saat Pandemi Covid
Tupperware gagal bersaing dengan pemain-pemain baru yang lebih kekinian dan harganya lebih terjangkau.
TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Tupperware kini di ujung tanduk gara-gara krisis keuangan dan kalah bersaing.
Terkenal sebagai produsen wadah makanan premium, Tupperware juga memberi kesempatan kepada banyak orang untuk jadi agen penjualan produknya.
Beberapa tahun terakhir, kinerja keuangan Tupperware turun tajam karena merosotnya permintaan pasar.
Tupperware gagal bersaing dengan pemain-pemain baru yang lebih kekinian dan harganya lebih terjangkau.
Kaum milenial pun menjauhi Tupperware.
Meski pihak manajemen telah berusaha mati-matian untuk meningkatkan penjualan, pamor Tupperware semakin meredup.
Sejarah Tupperware
Tupperware merupakan merek produk wadah makanan dan peralatan rumah tangga yang diciptakan oleh seorang insinyur kimia bernama Earl Tupper pada tahun 1946 di AS.
Earl Tupper yang telah berkecimpung di industri plastik selama bertahun-tahun, berhasil memurnikan ampas biji hitam polyethylene menjadi plastik yang fleksibel, kuat, tidak berminyak, bening, aman, ringan dan tidak berbau.
Inovasi ini digagas Earl Tupper untuk mengurangi limbah plastik.
Semua produk Tupperware didesain agar bisa dipakai berulang kali, sehingga bisa mengurangi pemakaian plastik sekali pakai yang berkontribusi merusak lingkungan.
Dengan keunggulan tersebut, banyak orang memilih menggunakan Tupperware.
Popularitasnya yang sempat meledak membuat Tupperware berharga tinggi.
Bahkan, beberapa tahun lalu sempat tersiar kabar apabila produk tersebut bisa digadaikan bila pemiliknya butuh dana segar.
Perjalanan Bisnis Tupperware
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/tupperware.jpg)