Selasa, 12 Mei 2026

Tupperware di Ambang Kebangkrutan, Sempat Melejit Saat Pandemi Covid

Tupperware gagal bersaing dengan pemain-pemain baru yang lebih kekinian dan harganya lebih terjangkau.

Tayang:
Editor: Ign Prayoga
Istimewa
Ilustrasi Tupperware 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Tupperware kini di ujung tanduk gara-gara krisis keuangan dan kalah bersaing.

Terkenal sebagai produsen wadah makanan premium, Tupperware juga memberi kesempatan kepada banyak orang untuk jadi agen penjualan produknya.

Beberapa tahun terakhir, kinerja keuangan Tupperware turun tajam karena merosotnya permintaan pasar.

Tupperware gagal bersaing dengan pemain-pemain baru yang lebih kekinian dan harganya lebih terjangkau.

Kaum milenial pun menjauhi Tupperware.

Meski pihak manajemen telah berusaha mati-matian untuk meningkatkan penjualan, pamor Tupperware semakin meredup.

Sejarah Tupperware

Tupperware merupakan merek produk wadah makanan dan peralatan rumah tangga yang diciptakan oleh seorang insinyur kimia bernama Earl Tupper pada tahun 1946 di AS.

Earl Tupper yang telah berkecimpung di industri plastik selama bertahun-tahun, berhasil memurnikan ampas biji hitam polyethylene menjadi plastik yang fleksibel, kuat, tidak berminyak, bening, aman, ringan dan tidak berbau.

Inovasi ini digagas Earl Tupper untuk mengurangi limbah plastik.

Semua produk Tupperware didesain agar bisa dipakai berulang kali, sehingga bisa mengurangi pemakaian plastik sekali pakai yang berkontribusi merusak lingkungan.

Dengan keunggulan tersebut, banyak orang memilih menggunakan Tupperware.

Popularitasnya yang sempat meledak membuat Tupperware berharga tinggi.

Bahkan, beberapa tahun lalu sempat tersiar kabar apabila produk tersebut bisa digadaikan bila pemiliknya butuh dana segar.

Perjalanan Bisnis Tupperware

Meledaknya penjualan Tupperware, tak lepas dari upaya Brownie Wise yang menjadi tokoh penting dalam marketing Tupperware.

Wanita asal Amerika ini direkrut oleh Earl untuk mempopulerkan produk Tupperware melalui metode pemasaran langsung yang dikenal dengan istilah Tupperware Parties.

Dengan menerapkan metode ini Wise biasanya akan mengundang para konsumen untuk melihat demonstrasi produk Tupperware. Lewat cara ini Wise sukses menguasai pasar Amerika.

Tupperware telah dipasarkan di lebih dari 100 negara besar di dunia sebagai solusi wadah penyimpanan, penyajian, dan persiapan bahan makanan ramah lingkungan.

Sepeninggal Wise, Earl Tupper mulai menjual Tupperware ke Rexall Drug Company.

Sayangnya penjualan Tupperware perlahan mulai mengalami kemerosotan ditengah membengkaknya beban utang.

Dikutip dari BBC, pada 2021, Tupperware memutuskan untuk memisahkan diri dari Newell Brands dan menjadi perusahaan publik yang independen bernama Tupperware Brands Corporation.

Gagal Bersaing di Pasar Global

Sebelum dinyatakan gulung tikar, Tupperware sempat mengalami lonjakan penjualan selama dua tahun pertama pandemi covid-19, karena lockdown mendorong penjualan peralatan dapur hingga harga sahamnya melonjak menjadi 37 dolar AS.

Namun memasuki tahun 2022, produk wadah makanan yang telah menguasai pasar global selama 77 tahun, perlahan mulai gagal meraih pelanggan dari kalangan milenial.

Customer menilai produk Tupperware kurang trendi bila dibandingkan dengan sejumlah merek lainnya, seperti Migle atau Corkcicle. Alasan tersebut yang membuat Tupperware mulai kehilangan pangsa pasar.

"Perusahaan ini dulunya merupakan sarang inovasi dengan gadget dapur pemecah masalah, tetapi sekarang benar-benar kehilangan keunggulannya,” kata Neil Saunders, analis ritel dan direktur pelaksana di Global Data Pengecer.

Selama 2022, perusahaan Tupperware melaporkan kerugian dari operasi sebesar 28,4 juta dolar AS turun dari sekitar 152,2 juta. Sehingga penjualan bersih tahun lalu hanya dapat mencatatkan keuntungan 1,31 miliar dolar AS.

Mencegah terjadinya pembengkakan kerugian, Kepala eksekutif Tupperware Miguel Fernandez mengatakan perusahaan saat ini sedang mencari calon investor atau mitra pembiayaan. Mengingat saat ini cadangan likuiditas perusahaan tengah menghadapi kemerosotan.

Selain mengadakan penggalangan perusahaan juga turut mempertimbangkan langkah efisiensi, termasuk memangkas sejumlah pekerjaan dan meninjau portofolio real estat perusahaan.

Langkah ini diambil guna mengembalikan persedian kasnya dengan begitu Tupperware dapat kembali mendanai operasionalnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

 

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved