Jumat, 17 April 2026

Berita Jakarta

Jangan Panik! Kenali Sejak Dini Tanda-tanda Terpapar Pneumonia dan Penangannya

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik dengan penyakit Pneumonia atau infeksi saluran nafas.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Joko Supriyanto
pixabay.com
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik dengan penyakit Pneumonia atau infeksi saluran nafas. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik dengan penyakit Pneumonia atau infeksi saluran nafas.

Sebab, penyakit ini bukan sesuatu yang baru terjadi di Indonesia khususnya di Jakarta dan menular dari percikan dahak dan batuk.

"Penularan juga bisa terjadi dari kontak dengab jarak yang cukup erat dan lama," ujar Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ngabila Salama, Rabu (6/12/2023).

Nganila menjelaskan, masa penularan saat terpapar bakteri pneumonia sampai muncul gejala pertama terhitung selama 1 sampai 4 minggu.

Namun, waktu penularan biasanya sering terjadi dengan jangka waktu selama dua sampai tiga Minggu.

Baca juga: Masyarakat Diminta Waspada Mycoplasma Pneumonia dari China, Gejalanya Mirip ISPA

Gejala pertama bisa berpotensi sesak nafas terjadi dalam kurun waktu sekir tuju hari. 

"Sehingga dihimbau kepada orang tua jika anak sakit dan sudah coba diobati sendiri, tidak membaik dalam 2-3 hari, segera bawa ke dokter dan fasilitas kesehatan untuk diobati lebih baik," katanya.

Namun, Ngabila memgaku untuk gejala pneumonia ringan bisa sembuh sendiri selama imunitas pada tubuh dalam keadaan tinggi 

Selain itu, gejala lain adalah demam cenderung tidak tinggi, batuk, pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah, sesak nafas, mudah lelah, dan sakit kepala.

"Komplikasi yang tidak diharapkan radang pada otak, jantung, sendi, ginjal (menyebabkan gagal ginjal) dan lainnya," tuturnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta memiliki empat cara untuk menghindari gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang kurang baik di ibu kota.

Baca juga: Setelah Corona, Kini Dinkes DKI Minta Warga Waspadai Mycoplasma Pneumonia China

Selain kualitas udara, dampak kesehatan juga bisa disebabkan oleh musim kemarau, dan angin kering di Jakarta.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Ngabila Salama mengatakan, cara pertama adalah mengurangi aktivitas di luar rumah bagi kelompok rentan penyakit.

Misalnya, bayi, balita, pralansia, lansia, ibu hamil, ibu menyusui dan masyarakat yang memiliki penyakit bawaan.

"Cara kedua adalah Menggunakan masker medis atau N95 jika beraktivitas di luar ruangan," katanya melalui keterangan tertilis, Selasa (15/8/2023). (m26)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved