Kamis, 7 Mei 2026

Berita Jakarta

Sejarah Kampung Bayam Jakarta Utara dan Konflik yang Tak Kunjung Selesai 

Kampung Bayam, Kelurahan Papango, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara dulunya merupakan lokasi pertanian yang dihuni oleh perantauan.

Tayang:
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Joko Supriyanto
wartakotalive.com/Junianto Hamonangan
Kondisi di Kampung Bayam, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara pasca penertiban 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA- Kampung Bayam, Kelurahan Papango, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara punya sejarah yang panjang. Jauh sebelum Jakarta Internasional Stadium (JIS) berdiri, kawasan tersebut merupakan lokasi pertanian.

Ketua Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, M Furqon menceritakan awal mula petani menduduki lahan milik negara di sana.

Ia menyabut ayahnya bernama Dudung S Manaf atau yang lebih dikenal sebutan Jembrong pertama kali tinggal di sana sekira tahun 1980an.

Dudung merupakan perantau dari Lebak, Banten keturunan keluarga petani. Namun, saat di Jakarta Furqon mengakui ayahnya mendapat kerja sebagai pengawas peti kemas yang diangkut oleh keret api dari Gudang Jakarta Kota ke Tanjung Priok.

Furqon menerangkan, Penghasilan sebagai pengawas peti kemas tak cukup hidupi anak dan istrinya di Jakarta. Dudung mulai bercocok tanam di sisi Utara Taman Bersih Manusiawi dan Wibawa (BMW).

Kegiatan Dudung bercocok tanam mendapat dukungan dari Wakil Gubernur DKI Eddie Marzuki Nalapraya di tahun 1984. Bahkan, kata Furqon, ayahnya dipercaya untuk mengawasi taman BMW sisi Utara dekat rel kereta api.

"Jadi abah saya itu menempati sisi Utara, pokoknya 50 meter dari rel kereta abah itu mulai bercocok tanam. Karena 50 meter ke arah rel kereta zaman dulu ada patok besi, itu menandakan lahan punya PT KAI," katanya, Selasa (6/2/2024).

Furqon melanjutkan, kegiatan Dudung kemudian disambut baik oleh warga yang mulai mengikuti bercocok tanam. Satu persatu, bangunan non permanen untuk tempat tinggal petani berdiri.

Para petani di sana diakui Furqon lebih senang menanam bayam karena perawatan yang mudah dan panennya cepat sekira 1-1,5 bulan.

Singkat cerita, Furqon anak kedua dari Dudung tumbuh dewasa dan mulai ikut kegiatan menanam tahun 1996. Ia mengakui bayam yang sudah dipanen oleh warga, kemudian di jual ke sejumlah daerah termasuk ke Lebak, Banten. 

"Kita itu jadi pemasok Bayam terbesar dari dulu sampai tahun 2008an, makanya Taman BMW sisi Utara dinamai Kampung Bayam, karena kami petani bayam," kata Furqon.

Pria berkaos abu-abu itu melanjutkan, Tahun 2000an saat itu Gubernurnya adalah Sutiyoso warga Kampung sudah mendengar isu bakal ada pembangunan stadion sepak bola di tempat tinggalnya.

Selain isu pembangunan stadion sepak bola, lanjut Furqon, ada juga sejumlah orang yang mengaku sebagai ahli waris lahan Kampung Bayam.

Warga di san pun tidak pernah merespon isu-isu tersebut karena mereka tahu lahan yang diduduki milik negara.

"Tahun 2008 atau 2009 pemukiman kami dibongkar karena ada orang yang mengaku sebagai ahli waris, padahal ini masih bagian dari Taman BMW yang luasnya sekira 265 hektar," imbuhnya.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved