Rabu, 22 April 2026

Reshuffle Kabinet

Cuma Bekerja 4 Bulan, Satryo Soemantri Brodjonegoro Mengaku Mundur Bukan Dipecat

Prabowo mengultimatum agar para menterinya bekerja dengan baik demi menyenangkan hari rakyat atau didepak dari kabinet

Editor: Joseph Wesly
(KOMPAS.com/Ardito Ramadhan)
MUNDUR BUKAN DIPECAT- Presiden Prabowo Subianto memimpin pelantikan Mendiktisaintek, Kepala dan Wakil Kepala BPKP dan BPS, serta Kepala BSSN di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/2/2025).Brian Yuliarto mengisi posisi yang ditinggal Satryo Soemantri Brodjonegoro. (KOMPAS.com/Ardito Ramadhan) 

Pencopotan Satryo ditandai dengan pengangkatan Brian Yuliarto dengan penggantinya. Brian diketahui merupakan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pengangkatan Brian berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 26P Tahun 2025 tentang Pemberhentian Dan Pengangkatan Menteri Negara Tahun 2024-2029 yang dibacakan oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretaris Negara Nanik Purwanti.

Profil lengkap Satryo

Mengutip laman Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro lahir di Delft, Belanda, pada 5 Januari 1956.

Satryo menikah dengan Silvia Ratnawati, dan mereka memiliki dua anak. 

Sebagai seorang akademisi dan birokrat, nama Satryo telah lama dikenal dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Ia merupakan putra dari Profesor Soemantri Brodjonegoro, mantan Rektor Universitas Indonesia sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1973. 

Jejak pendidikan dan pengabdian keluarga ini juga dilanjutkan oleh adiknya, Profesor Bambang Brodjonegoro, yang pernah menjabat di beberapa kementerian pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Satryo merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia menyelesaikan gelar Ph.D. di bidang Teknik Mesin di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, pada tahun 1985. Sekembalinya ke Indonesia, ia menjadi dosen di Departemen Teknik Mesin, ITB. 

Kemudian pada tahun 1992, Satryo dipercaya sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin ITB, di mana ia memulai implementasi self-evaluation process, sebuah langkah inovatif yang kemudian diadopsi oleh ITB dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Satryo memainkan peran penting dalam reformasi pendidikan tinggi di Indonesia. 

Salah satu pencapaiannya yang signifikan adalah mengubah institusi pendidikan tinggi besar menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada Desember 2000, sebuah kebijakan yang memberikan otonomi lebih besar bagi perguruan tinggi untuk berkembang.

Namun, perjalanan Satryo di dunia pendidikan tidak lepas dari tantangan.

Salah satu isu utama yang ia hadapi adalah kualitas lulusan perguruan tinggi Indonesia yang sering kali dianggap kurang kompeten di dunia kerja.

Di sisi lain, banyak generasi muda Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri karena merasa lebih dihargai.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved