Reshuffle Kabinet
Cuma Bekerja 4 Bulan, Satryo Soemantri Brodjonegoro Mengaku Mundur Bukan Dipecat
Prabowo mengultimatum agar para menterinya bekerja dengan baik demi menyenangkan hari rakyat atau didepak dari kabinet
TRIBUN TANGERANG.COM, JAKARTA- Presiden Prabowo memecat Satryo Soemantri Brodjonegoro dari kursi menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek).
Tidak diketahui alasan Prabowo memecat putra dari Soemantri Brodjonegoro.
Namun sebelum melakukan reshuffle kabinet, Prabowo mengatakan bahwa ada menteri yang bekerja tidak seirama dengan kabinet merah-putih.
Prabowo mengultimatum agar para menterinya bekerja dengan baik demi menyenangkan hari rakyat atau didepak dari kabinet.
"Kalau tidak bisa bekerja akan saya singkirkan," katanya beberapa waktu lalu.
Kini terjawab sosok yang dianggap tidak seiramana dengan kabine merah putih.
Pasca direshuffle, Soemantri Brodjonegoro buru-buru memberikan pengakuan soal dirinya yang direshuflle.
Dia mengaku lebih baik mundur daripada diberhentikan dari jabatan menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek).
Dia pun menerima jika kinerjanya selama empat bulan terakhir dianggap belum memenuhi harapan pemerintah.
"Utamanya karena saya sudah bekerja keras selama 4 bulan ini. Namun karena mungkin tidak sesuai harapan dari pemerintah, ya saya lebih baik mundur daripada diberhentikan," ujar Satryo di kantornya.
Posisinya kini digantikan oleh Brian Yuliarto yang telah dilantik oleh Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Rabu (19/2/2025).
Satryo telah membuat surat pengunduran diri tengah malam tadi. Dia langsung menyerahkan surat itu ke Sekretariat Negara untuk disampaikan kepada Presiden Prabowo.
"Saya mengajukan pengunduran diri. Harus legowo dong. Kita kerja baik, maksimal sudah, enggak ada pamrih, tulus saya kerja. Kalau enggak cocok, mundur saja lebih baik," kata dia.
Satryo Soemantri Brodjonegoro menjadi menteri pertama yang di-reshuffle oleh Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo Subianto telah mengganti Satryo Soemantri Brodjonegoro dari jabatannya di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Pencopotan Satryo ditandai dengan pengangkatan Brian Yuliarto dengan penggantinya. Brian diketahui merupakan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pengangkatan Brian berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 26P Tahun 2025 tentang Pemberhentian Dan Pengangkatan Menteri Negara Tahun 2024-2029 yang dibacakan oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretaris Negara Nanik Purwanti.
Profil lengkap Satryo
Mengutip laman Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro lahir di Delft, Belanda, pada 5 Januari 1956.
Satryo menikah dengan Silvia Ratnawati, dan mereka memiliki dua anak.
Sebagai seorang akademisi dan birokrat, nama Satryo telah lama dikenal dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Ia merupakan putra dari Profesor Soemantri Brodjonegoro, mantan Rektor Universitas Indonesia sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1973.
Jejak pendidikan dan pengabdian keluarga ini juga dilanjutkan oleh adiknya, Profesor Bambang Brodjonegoro, yang pernah menjabat di beberapa kementerian pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Satryo merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia menyelesaikan gelar Ph.D. di bidang Teknik Mesin di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, pada tahun 1985. Sekembalinya ke Indonesia, ia menjadi dosen di Departemen Teknik Mesin, ITB.
Kemudian pada tahun 1992, Satryo dipercaya sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin ITB, di mana ia memulai implementasi self-evaluation process, sebuah langkah inovatif yang kemudian diadopsi oleh ITB dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Satryo memainkan peran penting dalam reformasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Salah satu pencapaiannya yang signifikan adalah mengubah institusi pendidikan tinggi besar menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada Desember 2000, sebuah kebijakan yang memberikan otonomi lebih besar bagi perguruan tinggi untuk berkembang.
Namun, perjalanan Satryo di dunia pendidikan tidak lepas dari tantangan.
Salah satu isu utama yang ia hadapi adalah kualitas lulusan perguruan tinggi Indonesia yang sering kali dianggap kurang kompeten di dunia kerja.
Di sisi lain, banyak generasi muda Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri karena merasa lebih dihargai.
Tantangan ini menjadi fokus perhatian Satryo untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat internasional.
Di luar birokrasi, Satryo juga aktif dalam kegiatan internasional, termasuk bekerja dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk perencanaan gedung Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin di Gowa.
Ia sempat menjabat sebagai Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) periode 2018-2023 dan menjadi Anggota Komisi Bidang Ilmu Rekayasa pada AIPI dikutip dari kompas.com
Kiprahnya di dunia pendidikan telah diakui dengan berbagai penghargaan, termasuk:
Medali Ganesha Bakti Cendekia Utama dari ITB (Maret 2010).
Bintang tanda jasa The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia (3 November 2016).
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini
Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News
| Respons Jokowi Prabowo Kembali Lakukan Reshuffle Kabinet yang Ketiga Kalinya dalam Setahun |
|
|---|
| Penunjukan Djamari Chaniago Tunjukkan Prabowo Bukan Pendendam |
|
|---|
| Daftar Lengkap 49 Menteri Terbaru Kabinet Merah Putih usai Lantik Erick Thohir dan Djamari Chaniago |
|
|---|
| 5 Tokoh Senior Kabinet Merah Putih Berusia di Atas 70 Tahun, Terbaru Djamari Chaniago |
|
|---|
| Erick Thohir Resmi Dilantik Prabowo Subianto Jadi Menteri Pemuda dan Olahraga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Pelantikan-Brian-Yuliarto.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.