Selasa, 2 Juni 2026

Liputan Khusus

Dari Bekasi hingga Balaraja,  Mampukah MRT Mengurai Macet Terparah Jabodetabek?

Deddy Herlambang menilai persoalan utama bukan hanya kemacetan, tetapi juga hilangnya produktivitas ekonomi akibat waktu yang terbuang di jalan. 

Tayang: | Diperbarui:
Tribuntangerang.com/KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
MRT - Ekspansi MRT lintas timur-barat Jakarta dinilai strategis untuk mengurangi kemacetan dan biaya ekonomi komuter, namun kelayakan ekonominya sangat bergantung pada tingginya jumlah penumpang, integrasi jaringan, serta risiko besar pada pembebasan lahan dan pembiayaan investasi, (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico) 

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Rencana ekspansi jaringan PT MRT Jakarta lintas timur - barat dari Medan Satria hingga Tomang - Kembangan - Balaraja kembali memantik perdebatan soal urgensi, kelayakan ekonomi, dan dampaknya terhadap kemacetan di Jabodetabek.

Di tengah pertumbuhan kawasan penyangga seperti Bekasi dan Tangerang, isu konektivitas berbasis rel dinilai semakin relevan untuk menjawab tekanan mobilitas harian jutaan komuter.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, koridor timur dan barat Jakarta menjadi titik paling kritis kemacetan. 

Arus kendaraan dari Bekasi - Cikampek dan Tangerang-Merak secara konsisten menunjukkan beban tinggi, terutama jam puncak kerja, yang berdampak pada waktu tempuh tidak pasti dan meningkatnya biaya perjalanan.

Pengamat Transportasi, Deddy Herlambang menilai persoalan utama bukan hanya kemacetan, tetapi juga hilangnya produktivitas ekonomi akibat waktu yang terbuang di jalan. 

“Kemacetan di Jabodetabek itu sudah masuk kategori biaya ekonomi yang sangat besar, bukan lagi sekadar ketidaknyamanan,” ujar Deddy kepada TribunTangerang.com, Sabtu (23/5/2026).

Terkait rencana ekspansi MRT, ia menyebut secara prinsip proyek tersebut masuk akal secara kebutuhan jangka panjang, namun tantangan terbesarnya ada pada struktur pembiayaan dan kesiapan investasi.

Menurutnya, proyek kereta perkotaan membutuhkan skema subsidi dan dukungan pemerintah yang lebih kuat dibanding infrastruktur jalan tol.

Dari sisi permintaan, koridor Bekasi-Jakarta dan Tangerang-Jakarta dinilai memiliki basis komuter yang sangat besar. Ribuan perjalanan harian sudah ditopang KRL Commuter Line, namun kapasitasnya dinilai mulai mendekati batas pada jam-jam sibuk.

Deddy menambahkan potensi pergeseran moda dari kendaraan pribadi ke MRT sangat bergantung pada integrasi jaringan dan akses “first mile-last mile”. 

Tanpa integrasi yang baik, ia menilai sebagian pengguna tetap akan bertahan menggunakan kendaraan pribadi meskipun tersedia moda rel cepat.

Soal kerugian ekonomi akibat kemacetan, ia menjelaskan secara umum biaya tersebut mencakup konsumsi bahan bakar, waktu kerja yang hilang, hingga penurunan produktivitas tenaga kerja. 

Baca juga: Warga Tangerang Dukung Proyek MRT Balaraja-Cikarang, Perjalanan ke Jakarta Bisa Lebih Singkat

Namun ia menegaskan belum ada angka tunggal yang benar-benar spesifik untuk masing-masing koridor Bekasi dan Tangerang.

Meski demikian, ia memperkirakan jika MRT lintas timur-barat beroperasi optimal, potensi pengurangan kemacetan bisa signifikan terutama di jalur utama yang selama ini menjadi bottleneck. Efek paling nyata bukan hanya pengurangan volume kendaraan, tetapi stabilitas waktu tempuh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved