Mengolah Heritage Jadi Peluang, UIC Creative Showcase 2026 Soroti Budaya Lampung
UIC Creative Showcase 2026 menghadirkan pendekatan berbeda dalam memaknai warisan budaya Lampung.
TRIBUNTANGERANG.COM - UIC Creative Showcase 2026 menghadirkan pendekatan berbeda dalam memaknai warisan budaya Lampung.
Lewat kolaborasi antara UIC College, Dekranasda Provinsi Lampung, dan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, ajang ini menempatkan budaya bukan sekadar objek pameran, melainkan sumber ide dan nilai ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Mulai dari kriya, busana, instalasi visual, hingga inovasi digital, karya talenta muda dihadirkan sebagai solusi kreatif yang relevan dengan pasar dan kebutuhan UMKM lokal.
Mengusung payung pesan “Advancing Lampung’s Heritage and Its Living Treasure”, showcase ini menempatkan warisan budaya bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan warisan yang hidup, yang dapat diolah menjadi nilai tambah ekonomi.
Showcase ini merupakan puncak rangkaian program yang diawali melalui Study Week ke Lampung (22–25 November 2025).
UIC College sendiri berfokus pada pengembangan talenta muda melalui pembelajaran berbasis industri dan kebutuhan sosial.
Pendekatan ini bukan hanya mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S1) di luar negeri, tetapi juga membekali mereka dengan soft skills yang relevan, mulai dari cara membaca konteks, menguji ide, hingga menyusun solusi yang aplikatif.
CEO USG Education, Adhirama G. Tusin, menegaskan bahwa UIC Creative Showcase dirancang untuk mengintegrasikan pendidikan dengan penguatan budaya dan dampak sosial-ekonomi melalui model kolaborasi lintas pihak.
Menurutnya, karya kreatif perlu dibangun melalui proses yang nyata, bukan sekadar tugas akademik, agar menghasilkan output yang relevan bagi masyarakat dan ekosistem daerah.
"UIC Creative Showcase dibangun di atas model kolaborasi yang saling menguatkan. Kolaborasi ini memastikan proses kreatif mahasiswa UIC College tidak berhenti di konsep, tetapi diwujudkan dalam solusi nyata untuk UMKM dan pelestarian budaya Lampung," kata Adhirama.
"Dari eksplorasi lapangan hingga showcase karya, pendidikan yang ‘hidup’ ini membekali mereka strategi bisnis, branding, dan kampanye yang aplikatif, sekaligus menciptakan dampak nyata dan keberlanjutan bagi talenta dan budaya lokal," lanjut Adhirama.
Ia menambahkan bahwa UIC College sebagai bagian dari USG Education menempatkan project-based learning sebagai metode utama, agar mahasiswa terbiasa membaca konteks, menguji ide, dan mempresentasikan solusi yang bisa dipakai.
Neli Yana, Direktur Kriya pada Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, menegaskan bahwa bahwa warisan budaya perlu terus dihidupkan agar tetap relevan dan bermartabat, serta memiliki nilai tambah ekonomi.
"Bagi kami, warisan budaya adalah modal strategis ekonomi kreatif yang harus terus dihidupkan, bukan hanya dilestarikan. Melalui kolaborasi seperti UIC Creative Showcase, kami mendorong agar kekayaan budaya daerah dapat diolah secara kreatif oleh generasi muda menjadi produk, gagasan, dan model bisnis yang relevan dengan pasar, tanpa kehilangan nilai dan identitas budayanya," kata Neli Yana.
Neli juga menekankan bahwa keberlanjutan karya kreatif membutuhkan “jalan lanjut”, bukan berhenti pada selebrasi.
| Bukan Sekadar Cuci Baju, Anantasari Sulap Limbah Organik Jadi Sabun Eco Enzyme |
|
|---|
| Dekranas Gelar Pelatihan Pewarna Alami untuk UMKM Tenun di Alor |
|
|---|
| Wamendagri Bima Arya Dorong Integrasi Data UMKM Lewat Platform SAPA UMKM |
|
|---|
| Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Percepatan Digitalisasi UMKM untuk Dongkrak Ekonomi Daerah |
|
|---|
| UMKM Binaan PLN UID Banten Ubah Limbah Karung Goni Jadi Produk Eco-Stylish |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/UIC-College-454.jpg)