News Analysis
Kata Dokter Soal Mitos Urut Hernia yang Masih Dipercaya Masyarakat
Pasien hernia mencoba pengobatan tradisional, terutama dengan cara diurut, bagimana pandangan dokter mengenai kasus ini?
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Oleh; Dokter Spesialis Bedah Umum Rumah Sakit St. Carolus Summarecon Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, Danny Kristianto Rustandi Sp.B
Saya masih sering menemukan pasien hernia yang datang ke rumah sakit setelah mencoba pengobatan tradisional, terutama dengan cara diurut.
Fenomena ini menunjukkan masih kuatnya kepercayaan di masyarakat hernia atau yang dikenal sebagai turun berok bisa sembuh tanpa tindakan medis.
Dalam praktik sehari-hari, hernia bukan sekadar benjolan biasa. Hernia terjadi karena adanya titik lemah atau lubang (defek) pada dinding perut, sehingga jaringan atau usus dari dalam perut turun ke bagian tersebut. Selama defek itu tidak diperbaiki, hernia tidak akan sembuh dengan sendirinya.
Mitos yang paling sering saya dengar adalah hernia bisa masuk kembali setelah diurut, lalu dianggap sembuh.
Memang benar, benjolan hernia bisa terdorong masuk kembali ke rongga perut saat ditekan atau saat pasien berbaring. Namun kondisi ini hanya sementara dan bukan berarti masalahnya selesai.
Mengurut hernia justru berisiko menimbulkan masalah baru. Tekanan berulang pada area hernia dapat menyebabkan luka-luka kecil atau mikro pada jaringan di dalam perut. Luka ini bisa memicu perlengketan antara usus dan jaringan sekitar, yang tidak disadari oleh pasien.
Perlengketan inilah yang sering menjadi masalah besar ketika pasien akhirnya membutuhkan operasi. Usus yang sudah melekat akan jauh lebih sulit dibebaskan saat pembedahan, sehingga prosedur operasi menjadi lebih lama, lebih rumit, dan risikonya pun meningkat.
Saya pernah menangani pasien yang datang dalam kondisi hernia terjepit setelah sebelumnya rutin menjalani terapi urut.
Saat itu, usus sudah sulit dikembalikan ke posisi semula karena perlengketan yang cukup kuat. Kondisi seperti ini tidak jarang memaksa kami melakukan operasi terbuka, bukan laparoskopi.
Padahal, jika hernia ditangani sejak awal dengan prosedur medis yang tepat, operasi bisa dilakukan dengan teknik laparoskopi. Metode ini menggunakan sayatan kecil, nyeri lebih minimal, dan risiko infeksi lebih rendah dibandingkan operasi konvensional.
Sayangnya, karena keterlambatan penanganan akibat percaya pada pengobatan tradisional, peluang menjalani operasi minimal invasif sering kali hilang. Pasien justru menghadapi risiko yang lebih besar, termasuk kemungkinan kerusakan usus.
Hernia yang dibiarkan atau salah ditangani juga berisiko mengalami kondisi terjepit, di mana aliran darah ke usus terganggu. Jika dibiarkan terlalu lama, usus bisa mengalami kematian jaringan dan bahkan pecah, yang mengancam nyawa pasien.
Saya memahami sebagian masyarakat memilih pengobatan tradisional karena takut operasi atau ingin solusi cepat tanpa tindakan medis. Namun penting dipahami hernia adalah masalah struktural, sehingga solusinya juga harus bersifat struktural, yakni menutup defek pada dinding perut.
Operasi hernia modern saat ini sudah jauh lebih aman dibandingkan anggapan masyarakat. Dengan teknik laparoskopi, pasien umumnya hanya perlu dirawat satu malam dan bisa kembali beraktivitas ringan dalam waktu singkat, selama tidak ada komplikasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Dokter-Danny-Kristianto-Rustandi.jpg)