News Analysis
Membedakan Amandel dan Radang Berbahaya pada Anak
penting untuk memahami perbedaan antara amandel besar yang normal dengan yang menandakan infeksi serius
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Dr. Elizabeth Vania Valentine Handoko, Sp.THT-BKL
Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan di Rumah Sakit St. Carolus Summarecon Serpong, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.
Saya melihat banyak orang tua yang begitu mendengar kata amandel langsung khawatir, berpikir anaknya pasti sakit atau butuh operasi. Padahal, amandel atau tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh anak.
Fungsinya mirip seperti garda terdepan, yang menjaga tubuh dari kuman dan virus yang masuk lewat mulut dan hidung. Jadi tidak semua pembesaran Amandel itu berbahaya.
Banyak orang tua salah kaprah mengira amandel besar selalu identik dengan radang kronis atau infeksi serius. Padahal, pada anak-anak, pembesaran amandel bisa menjadi respons alami tubuh terhadap makanan, minuman, atau paparan kuman baru.
Sistem kekebalan anak yang masih belajar membuat amandel terlihat lebih besar daripada orang dewasa.
Jadi, penting untuk memahami perbedaan antara amandel besar yang normal dengan yang menandakan infeksi serius. Orang tua perlu mengenali tanda-tanda yang harus diwaspadai.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain sesak napas saat tidur, kesulitan menelan, demam berulang, dan pertumbuhan atau berat badan yang tidak sesuai dengan usia anak.
Gejala-gejala ini bisa menjadi indikasi adanya radang berulang atau masalah lain yang membutuhkan perhatian dokter.
Sesak napas, misalnya, bisa terlihat dari anak yang sering mendengkur keras saat tidur atau menarik napas lewat mulut. Ini menandakan kemungkinan ada penyumbatan di tenggorokan akibat Amandel yang terlalu besar.
Kesulitan menelan juga merupakan tanda penting. Jika anak mulai menolak makan atau minum, atau sering mengalami sakit tenggorokan yang membuatnya tidak nyaman, orang tua sebaiknya segera memeriksakan ke dokter THT.
Demam yang naik turun dan terjadi berulang juga menjadi indikator. Terutama jika dalam satu tahun anak mengalami radang tenggorokan lebih dari tujuh kali, atau lebih dari lima kali dalam dua tahun berturut-turut.
Selain itu, gagal tumbuh kembang anak juga bisa jadi tanda. Jika berat badan dan tinggi badan anak tidak sesuai standar usia, dokter biasanya akan mempertimbangkan apakah amandel besar atau radang kronis memengaruhi kesehatannya.
Penting juga diketahui, tidak semua radang tenggorokan disebabkan oleh bakteri. Bisa jadi virus, yang biasanya sembuh sendiri tanpa antibiotik. Jadi, orang tua tidak boleh sembarangan memberikan antibiotik tanpa resep dokter.
Sebagai pencegahan, menjaga kebersihan mulut sangat penting. Sikat gigi minimal dua kali sehari, gunakan dental floss untuk membersihkan sisa makanan di sela gigi, dan pastikan anak cukup minum air putih, sekitar 6-8 gelas sehari, agar tenggorokan tetap lembap dan bersih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/DOKTER-ELIZABETH-VANIA.jpg)