Selasa, 21 April 2026

Ini Waktu Puncak Gerhana Bulan Total 2026 di WIB, WITA, dan WIT

Masyarakat Indonesia akan disuguhkan fenomena langit spektakuler pada Selasa, 3 Maret 2026, saat Gerhana Bulan Total menghiasi cakrawala malam.

Editor: Joko Supriyanto
Tribuntangerang.com/Dok BMKG
GERHANA BULAN - Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak gerhana akan terjadi pada pukul 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT, dengan fase totalitas berlangsung hampir satu jam. (Dok.BMKG) 

TRIBUNTANGERANG.COM - Masyarakat Indonesia akan disuguhkan fenomena langit spektakuler pada Selasa, 3 Maret 2026, saat Gerhana Bulan Total menghiasi cakrawala malam.

Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak gerhana akan terjadi pada pukul 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT, dengan fase totalitas berlangsung hampir satu jam.

Jika cuaca cerah, Bulan akan tampak berwarna merah dramatis momen langka yang menjadi satu-satunya gerhana bulan total yang bisa diamati langsung dari Indonesia sepanjang 2026.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyampaikan bahwa Gerhana Bulan terjadi akibat dinamisnya posisi Matahari, Bumi, dan Bulan, yang hanya terjadi pada saat fase bulan purnama.

Gerhana Bulan Total secara spesifik terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis sejajar. 

Hal ini membuat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah; jika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi,” kata Nelly dilansir laman BMKG.

Secara keseluruhan, durasi gerhana dari fase gerhana mulai hingga gerhana berakhir akan memakan waktu 5 jam 41 menit 51 detik.

Untuk durasi parsialitasnya berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik. Sementara fase Totalitas di mana Bulan benar-benar berada dalam bayangan umbra Bumi akan berlangsung selama 59 menit 27 detik.

Jika kondisi langit cerah, masyarakat dapat melihat Bulan berubah warna menjadi merah saat puncak gerhana terjadi.

 Warna merah ini merupakan hasil dari hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, di mana cahaya matahari dengan panjang gelombang pendek (biru) tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah) lolos mencapai permukaan Bulan.


Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu, Fachri Radjab, mengatakan pengamatan di wilayah Timur Indonesia memiliki visibilitas yang lebih baik karena dapat mengamati fase-fase awal gerhana saat Bulan terbit.

Sebaliknya, untuk wilayah Barat Indonesia, gerhana akan ditemukan dalam kondisi sudah berlangsung (fase totalitas atau puncak) sesaat setelah Bulan terbit.

"Fenomena ini akan benar-benar berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB (atau tengah malam di wilayah WIT) saat bulan keluar dari bayangan penumbra bumi. Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya bulan,” ujarnya.

Tahun 2026 diprediksi akan mengalami empat kali gerhana, yaitu dua kali gerhana Matahari dan dua kali gerhana Bulan.

Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia. Secara astronomis, gerhana ini merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota pada seri Saros 133.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved