Berita Tangerang
Jejak Sejarah Perkebunan Kolonial Belanda yang Tersisa di Tangerang Selatan
Dua bangunan tua peninggalan kolonial Belanda masih berdiri di Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Desy Selviany
Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, SERPONG - Dua bangunan tua peninggalan kolonial Belanda masih berdiri di Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Bangunan tersebut merupakan sisa rumah dinas pada masa Hindia Belanda yang telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka dan kini kondisinya mulai lapuk dimakan usia.
Rumah putih itu berada di area yang dikelilingi pepohonan dan semak liar. Dari luar, dindingnya tampak kusam, sebagian berjamur, dan struktur bangunan mulai mengalami kerusakan di sejumlah titik.
Salah satu warga yang merawat bangunan tersebut, Sulaiman, mengatakan rumah itu dulunya merupakan rumah dinas pejabat perkebunan pada masa kolonial Belanda.
“Awalnya itu sejak zaman Belanda, itu rumah Demang,” kata Sulaiman kepada TribunTangerang.com, Serpong, Tangsel, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, Demang pada masa itu merupakan pejabat atau orang kepercayaan pihak direksi perkebunan.
Rumah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal pejabat perkebunan dengan fungsi administratif pada masa Hindia Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut kemudian masuk dalam proses nasionalisasi aset Belanda pada sekitar tahun 1949.
Sejak itu, rumah tersebut sempat digunakan oleh pengelola perkebunan milik pemerintah Indonesia.
“Dalam perjalanannya, sejak Indonesia merdeka 45 sampai 49, kita nasionalisasi, jadi milik pemerintah Indonesia,” ujar Sulaiman.
Menurutnya, pada masa setelah nasionalisasi, bangunan tersebut masih ditempati dan difungsikan oleh pihak perkebunan maupun manajemen BUMN yang mengelola kawasan tersebut.
Namun, seiring waktu, fungsi bangunan mulai berkurang hingga akhirnya ditinggalkan.
Baca juga: Sisa Terakhir Rumah Belanda Bukti Kejayaan Perkebunan di Tangerang Selatan Kini Nyaris Ambruk
“Sampai 2017 itu masih difungsikan, ditempati, setelah itu mulai kosong,” kata Sulaiman.
Sejak kosong pada 2017, kondisi bangunan mulai mengalami kerusakan di berbagai bagian, terutama atap dan struktur kayu di bagian atas. Hujan dan tumbuhan liar mempercepat kerusakan bangunan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/bangunan-tua-tangsel.jpg)