Selasa, 26 Mei 2026

Kemendagri

Instrumen Monev Kerja Sama Pemda dan Luar Negeri Pastikan Kerja Sama Internasional Lebih Terarah

Instrumen Monev kerja sama Pemda dan luar negeri memastikan kerja sama internasional berjalan lebih terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Tayang:
Editor: Mochammad Dipa
Kemendagri
Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir menghadiri acara Forum Peresmian Instrumen Monitoring dan Evaluasi Kerja Sama Daerah dengan Pemda Luar Negeri dan Lembaga Luar Negeri, di Hotel Harris Vertu Harmoni, Jakarta, Senin (25/5/2026). 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meluncurkan instrumen monitoring dan evaluasi (Monev) kerja sama pemerintah daerah (Pemda) dengan pihak luar negeri. 

Instrumen tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi daerah untuk memastikan kerja sama internasional berjalan lebih terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Tomsi Tohir mengatakan, upaya mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilaksanakan sendiri.

Dibutuhkan peran berbagai pihak, termasuk dari kerja sama luar negeri yang dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan harkat martabat bangsa.

Tomsi menjelaskan, selama ini kerja sama antara Pemda dengan pihak luar negeri sudah cukup banyak. Namun, keberhasilannya sulit diukur karena belum adanya instrumen evaluasi yang baku.

Peluncuran instrumen hari ini menjadi langkah penting untuk menghadirkan standar yang jelas dalam pelaksanaan kerja sama luar negeri di daerah.

“Manfaatkan instrumen ini dengan baik, kemudian pahami dengan baik, kemudian sosialisasikan dengan baik. Supaya apa? Supaya masing-masing daerah bisa melaksanakannya,” ujar Tomsi saat memberikan keynote speech pada acara Forum Peresmian Instrumen Monitoring dan Evaluasi Kerja Sama Daerah dengan Pemda Luar Negeri dan Lembaga Luar Negeri, di Hotel Harris Vertu Harmoni, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Tomsi juga menyoroti masih adanya kerja sama Pemda dengan pihak luar negeri yang mengalami hambatan. Kendala tersebut antara lain terkait administrasi, sumber daya manusia, regulasi, hingga pembiayaan.

Menurutnya, kehadiran instrumen ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi daerah untuk memahami faktor-faktor keberhasilan kerja sama, sekaligus menjadi sarana pembelajaran antar daerah dalam mengembangkan potensi masing-masing.

“Banyak lembaga-lembaga dan negara-negara donor itu juga mau berhubungan, berkomunikasi dengan kita, caranya juga seperti apa [sehingga diperlukan instrumen],” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Tomsi mengungkap masih adanya hasil pelaksanaan kerja sama luar negeri yang kerap berhenti pada kegiatan seremonial.

Bahkan, sejumlah bantuan luar negeri dinilai hanya menghasilkan dokumen administratif tanpa dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah. Hal seperti inilah yang menurutnya perlu diubah.

“Sekarang ini yang dibutuhkan adalah karya nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Jadi, setiap melaksanakan suatu perjanjian, itu output-nya ke mana? Hasilnya yang dapat dirasakan oleh masyarakat kita itu apa? Itu yang harus kita pikirkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, mayoritas kerja sama Pemda dengan pihak luar negeri masih didominasi kerja sama dan pertukaran budaya.

Karena itu, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) diminta lebih aktif berperan dalam menjembatani kepala daerah untuk menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved