Selasa, 2 Juni 2026

Berita Jakarta

Warga Pesisir Utara Jakarta Diminta Siaga Potensi Banjir Rob hingga 5 Juni 2026

Warga pesisir utara Jakarta diminta siaga menghadapi potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi hingga 5 Juni 2026.

Tayang:
Tribuntangerang.com/WARTA KOTA
BANJIR ROB -Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut fenomena pasang maksimum air laut berpotensi memicu genangan di sejumlah kawasan pesisir, terutama pada malam hari. 

TRIBUNTANGERANG.COM - Warga pesisir utara Jakarta diminta siaga menghadapi potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi hingga 5 Juni 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut fenomena pasang maksimum air laut berpotensi memicu genangan di sejumlah kawasan pesisir, terutama pada malam hari.

Fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan fase Bulan Purnama pada 31 Mei 2026 yang diperkirakan meningkatkan tinggi muka air laut. 

BPBD mencatat periode pasang maksimum berlangsung sejak 27 Mei hingga 5 Juni 2026, dengan puncak pasang diprediksi terjadi pukul 19.00 hingga 00.00 WIB.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Adanya fenomena pasang maksimum air laut yang bersamaan dengan fase Bulan Purnama pada tanggal 31 Mei 2026, berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum berupa banjir pesisir atau rob di wilayah pesisir utara Jakarta,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Muara Angke, Tanjung Priok, Marunda, Cilincing, Kalibaru, hingga Kepulauan Seribu.

BPBD mengingatkan warga agar membatasi aktivitas di kawasan pesisir saat pasang tinggi berlangsung.

Warga juga diminta memastikan saluran drainase di lingkungan sekitar berfungsi optimal guna meminimalkan genangan.

Selain itu, masyarakat diimbau rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari pemerintah.

“Dalam kondisi darurat, masyarakat dapat segera menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 yang beroperasi selama 24 jam,” kata Marulitua.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa infrastruktur pengendali banjir yang ada saat ini mulai mengalami keterbatasan dalam menghadapi hujan ekstrem akibat dampak perubahan iklim.

Curah hujan yang kini kerap melampaui kapasitas desain infrastruktur disebut menjadi faktor utama banjir masih terjadi di sejumlah titik di ibu kota.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan sebagian besar fasilitas pengendali banjir di Jakarta dibangun untuk menangani curah hujan sekitar 100 hingga 150 milimeter. Namun, beberapa tahun terakhir intensitas hujan meningkat hingga mencapai 250 milimeter.

"Infrastruktur pengendali banjir seperti pompa air, tanggul sungai, saluran drainase, waduk/situ/embung dibangun dengan kapasitas desain atau kemampuan menampung dan mengalirkan aliran permukaan dari curah hujan dengan besaran tertentu. Namun, beberapa tahun belakangan karena adanya perubahan iklim, curah hujan yang terjadi cenderung tinggi dan ekstrim yaitu 150-250 mm," kata Ika kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved